KONSURV 2014

Posted on Posted in Kepengurusan 2014-2015

EKOSISTEM MANGROVE DI DESA KARANGJALADRI KECAMATAN PARIGI, KABUPATEN PANGANDARAN, JAWA BARAT
Oleh :
TIM SCIENTIFIC KONSURV

ABSTRAK
Mangrove adalah individu jenis tumbuhan maupun komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah pasang surut (FAO 1982).Tujuan dari pengambilan data ini yaitu mengetahui keadaan dan karakteristik serta melihat nilai dominansi dan kerapatan dari ekosistem mangrove yang ada di DesaKarangjaladri, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.Metode yang digunakan adalah metode transek. Hutan mangrove merupakan tipe hutan yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan ini merupakan vegetasi yang sanggup beradaptasi dengan perubahankondisi yang berubah-ubah. Mangrove berfungsi sebagai daerah pemijahan dan daerah pembesaran berbagai jenis ikan, udang, kerang-kerangan, dan spesies lainnya yang disebut biota asosiasinya. Pengambilan dilakukan dengan metode “Plot Transek Garis” (Transect Line Plot method), dengan mengambil dua stasiun, masing-masing stasiun terdapat 3 plot, satu plot memiliki ukuran 10 x 10 m2. Pengambilan data mangrove dilakukan untuk mengamatijumlah pohon dan anakan. Jenis mangrove dominan yang ditemukan pohon dan anakan, yaitu Rhizophora mucronata. Pada kedua stasiun nilai INP sebesar 126.9977 dan 260, sedangkan untuk anakan nilai INPnya 200,333 dan 300.

Kata kunci : plot transek garis, pohon, nilai dominansi, INP

ABSTRACT
Mangrove is the individual plant species and plant communities that are in the tides area (FAO 1982). The purpose of this data retrieval is knowing the circumstances and characteristics and also to see the value of the dominance and the density of mangrove ecosystems in the Karangjaladri, Parigi, Pangandaran, West Java. The used method is the transect method. The mangrove forest is a forest type that is affected by the tides of sea water. This forest vegetation which is able to adapt to the changing conditions. Mangroves serve as a spawning area and the enlargement of various types of fish, shrimp, shellfish, and other species. Retrieval withthe method of “Plot Line Transect” (Plot Line Transect method), by taking the two stations, each station there are three plots, one plot has a size of 10 x 10 m2. Data retrieval is performed to observe the number of mangrove trees and saplings. The dominant types of mangrove trees and saplings were found is Rhizophora mucronata. At the two stations INP of Rhizophora mucronataare 126.9977 and 260. While INP saplings values for two stasions are 200,333 and 300.

Keywords: plot line transect, trees, the dominance value, INP

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Mangrove adalah individu jenis tumbuhan maupun komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah pasang surut (FAO 1982). Keanekaragaman jenis ekosistem mangrove di Indonesia cukup tinggi jika dibandingkan dengan negara lain di dunia. Jumlah jenis mangrove di Indonesia mencapai 89 yang terdiri dari 35 jenis pohon, 5 jenis terna, 9 jenis perdu, 9 jenis liana, 29 jenis epifit, dan 2 jenis parasit (Nontji, 1987). Dari 35 jenis pohon tersebut, yang umum dijumpai di pesisir pantai adalah Avicennia sp, Sonneratia sp, Rizophora sp, Bruguiera sp, Xylocarpus sp, Ceriops sp, dan Excocaria sp.

Kabupaten Pangandaran, adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Parigi. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar di utara, Kabupaten Cilacap di timur, Samudera Hindia di selatan, serta Kabupaten Tasikmalaya di barat. Kawasan pesisir Selatan Jawa Barat secara fisiografi merupakan bagian dari zona jalur pegunungan selatan Jawa Barat yang memanjang dari Ujung Kulon dan Segara Anakan di bagian Timur. Zona ini dicirikan oleh perbukitan yang terjal dengan pantai yang juga terjal dan pada beberapa tempat dijumpai dataran-dataran pantai yang cukup luas. Secara umum morfologi daerah pesisir selatan dapat dibagi menjadi tiga tipe: morfologi dataran pantai, morfologi perbukitan bergelombang, dan morfologi karst. Morfologi dataran pantai Kawasan ini umumnya datar. Pada umumnya satuan ini memiliki luasan yang kecil (sempit), kecuali di daerah Pelabuhanratu, Cidaun, Rancabuaya, Cipatujah, dan Kecamatan Parigi.

Ekosistem mangrove terdapat di Kecamatan Kalipucang yaitu di muara Sungai Citanduy yang merupakan bagian dari Desa Pamotan, Desa Bojongsalawe, dan Karangjaladri, Kecamatan Parigi. Fungsi ekosistem mangrove adalah sebagai habitat yang berperan penting sebagai tempat berpijah dan tempat asuhan berbagai jenis ikan, udang, dan biota lainnya serta merupakan berbagai habitat berbagai jenis burung, mamalia dan reptil.Spesies mangrove yang terdapat di Pantai Selatan Jawa Barat adalah:Rhizophora mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops tagal, Xylocarpus granatum, Avicennia marina, Sonneratia alba, Aegiceras corniculata, Lumnitzera racemosa, Heritiera litoralis, dan Nypa fruticans.

Desa Karangjaladri, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran memiliki target menjadi destinasi Ecotourism andalan Kabupaten Pangandaran untuk 5 tahun kedepan. Hal ini menyebabkan pemerintah Desasangat mendukung dalam pengembangan mangrove disekitar Parigi. Perhitungan dari nilai kerapatan ini mangrove dapat menjadi suatu masukkan dalam persentase yang didapat untuk semakin mengembangkan wilayah wisata ini. Indeks dominansi melihat spesies dominan dari mangrove yang ada serta beberapa parameter yang dapat dikaitkan terhadap dominansi mangrove tersebut bisa bertahan. Peningkatanekosistem mangrove dapat mengembangkan dan meningkatkan perekonomian diwilayah Parigi

1.2 Tujuan

Tujuan dari pengambilan data ini adalah mengetahui keadaan dan karakteristik serta melihat nilai dominansi dan kerapatan dari ekosistem mangrove yang ada di Desa Karangjaladri, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat serta mengaitkan fungsi dari mangrove tersebut dengan aspek yang ada disekitarnya.

2. METODOLOGI

2.1 Lokasi dan Waktu Pengambilan Data

Pengambilan data dilakukan pada tanggal 27 September 2014 di Desa Kalangjaladri, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Peta Gambar 1. Peta Lokasi Pengamatan

2.2. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan untuk kegiatan penelitian ini adalah Tali rafia dengan ukuran 1×1, 5×5, dan 10×10 m, GPS, meteran jahit, plastik, alat tulis, data sheet kertas (New Top)., dan kamera.

2.3. Metode Pengambilan Data Mangrove

Metode pengambilan data ekosistem mangrove di Desa Kalangjadri ini menggunakan metode sampling yaitu Metode Transek Garis dan Petak contoh (Transect Line Plot). Metode ini merupakan pencuplikan contoh populasi suatu ekosistem dengan pendekatan petak contoh yang berada pada garis yang ditarik melewati wilayah ekosistem tersebut. (Wawan Kiswara, 1992)
Gambar 2.Metode Pengambilan data mangrove dengan kombinasi transek kuadrat dengan jalur


Gambar 3. Stasiun pengambilan data mangrove

Pengamatan mangrove dilakukan dengan menggunkan metode transek kuadrat contoh yaitu dengan cara menarik garis lurus tegak lurus garis pantai disetiap stasiun, kemudian di atas garis tersebut ditempatkan kuadrat berukuran 10m x 10m sebagai substasiun contoh. Jarak antar kuadrat ditetapkan berdasarkan perbedaan struktur vegetasi.
Masing-masing plot replikasi berada di dalam transek kuadrat berukuran 10m x 10m. Pada plot yang berukuran 10m x 10m dilakukan perhitungan jumlah pohon atau tegakan. Di dalam plot replikasi dibuat petak berukuran 5m x 5m untuk menghitung jumlah anakan dan petak berukuran 1m x 1m untuk mengukur jumlah semai.
Setiap transek, lakukan identifikasi jenis tumbuhan mangrove, hitung jumlah pohon, anakkan dan semai serta ukur diameternya yang nantinya digunakan untuk menghitung nilai INP. Nilai INP pohon dan anakkan mencapai 300 dan INP semai mencapai 200.

2.3. Analisis Data

Dalam analisis data ini ada beberapa hal yang akan dicari nilainya yaitu nilai dari persen penutupan jenis mangrove dan indeks nilai penting dari mangrove. Perhitungan persen penutupan jenis mangrove pada masing-masing stasiun dilakukan dengan menggunakan pendekatan sebagai berikut :
analisis data
Dimana :
C = nilai persentase penutupan mangrove (%)
∑ BA= Jumlah seluruh luas lingkar pohon atau anakan (m2)
A = Luas total area pengamatan(m2)

Indeks Nilai Penting adalah suatu gambaran mengenai pengaruh atau peranan suatu spesies tumbuhan mangrove dalam komunitas mangrove. Adapun menghitung indeks nilai penting (INP) adalah

INP
Ket:
INP = Indeks nilai penting
RDi = Kepadatan individu per satuan luas
RFi = Frekuensi relatif jenis
RCi = Penutupan relatif jenis

Kerapatan Relatif Jenis (RDi) adalah perbandingan antara jumlah tegakan jenis i dan jumlah total dengan seluruh jenis.
Kerapatan Jenis (Di)

Di
Keterangan :
ni = tegakan jenis ke-i
A = luas total plot

Kerapatan Relatif Jenis
Perbandingan antara jumlah individu jenis ke-i dan jumlah total individu seluruh spesies (RDi)

Rdi
Keterangan :
RDi = Kerapatan relatif jenis
ni = tegakan jenis ke-i
= jumlah total tegakan seluruh jenis

Frekuensi relatif jenis (RFi) adalah perbandingan antara frekuensi jenis dan jumlah frekuensi untuk seluruh jenis
Frekunsi Jenis (Fi)

Fi
Keterangan :
Pi = jumlah plot di mana ditemukan jenis i
= jumlah total plot yang diamati

Frekuensi Relatif Jenis

Rfi
Keterangan :
RFi = Frekuensi relatif jenis
Fi = Frekuensi jenis ke-i
= jumlah frekuensi untuk seluruh jenis

Penutupan Relatif Jenis (RCi) adalah perbandingan antara luas area penutupan jenis i dan total area penutupan untuk seluruh jenis
Penutupan Jenis (Ci)

Ci

BA = phi * DBH2 /4 . cm2/pohon
Keterangan :
phi = 3,14
DBH = diameter batang pohon jenis i
A = Luas plot total
Penutupan Relatif Jenis

Rci
Keterangan :
RCi = Penutupan relatif jenis
Ci = Luas area penutupan jenis ke-i
= Luas total area penutupan seluruh jenis

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil

Berikut merupakan lokasi penanaman bibit mangrove.

konsurv2

Bibit mangrove ditanam disekitar sungai dan juga di sekitar lagoon dekat pantai. Bibit yang tertanam sejumlah 2000 buah.

Adapun hasil dari pengambilan data dilapang, ditampilkan dalam beberapa tabel dibawah ini.

Parameter Fisika-Kimia Perairan Wilayah Sekitar Mangrove
Parameter fisika perairan yang diukur adalah suhu, kecerahan, dan kedalaman, sedangkan parameter kimia yang diukur adalah pH dan oksigen terlarut (DO). Parameter substrat yang diamati adalah tekstur. Hasil pengukuran parameter fisika-kimia perairan dan substrat dapat dilihat pada tabel 1.

tabel 1

Suhu perairan pada stasiun-stasiun pengamatan adalah berkisar 29-310C dimana suhu tertinggi pada lokasi laguna, karena daerah tersebut cukup terbuka sehingga intensitas cahaya yang diterima lebih tinggi. Suhu yang sesuai bagi kehidupan dan produksi mangrove adalah suhu rata-rata daerah tropis yaitu 26-320C dan kisaran suhu yang terukur di setiap stasiun pengamatan termasuk dalam kisaran tersebut sehingga dapat disimpulkan bahwa suhu di lokasi pengamatan sesuai untuk pertimbuhan mangrove. Sedangkan salinitas yang terukur berkisar 28-33 ppt, dengan nilai terbesar pada lokasi muara. Hal ini dikarenakan muara sangat dipengaruhi oleh wilayah pasang surut air laut secara langsung dibangkan dua lokasi lainnya. Kandungan pH pada semua stasiun tidak berbeda jauh yaitu antara 7-8. Ini masih termasuk kedalam kisaran pH yang baik untuk pertumbuhan mangrove, karena pH optimal bagi mangrove khususnya Rhizopora sp. adalah 7-9. Kecerahan pada daerah pengamatan ini cukup optimal juga yaitu antara 25-100%.

Indeks Nilai Penting (INP) pada Komunitas Mangrove
Setelah dilakukan pengukuran terhadap lingkar batang pohon dan jumlah anakan dan semai, maka diperoleh indeks nilai penting (INP) dari komunitas mangrove yang diamati. INP tersebut disajikan dalam tabel berikut.

tabel 2

tabel 3

tabel 4

3.2. Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi pengamatan, substrat yang ditemukan adalah berlumpur dengan suhu rata-rata 28 0C, sedangkan spesies mangrove yang ditemukan adalah Rhizopora mucronata, Avicennia marina,danSonneratia sp. Dari ketiga spesies ini, Rhizopora mucronata atau bisa disebut sebagai bakau adalah yang paling mendominasi dengan jumlah yang ditemukan pada lokasi pertama ialah 21 pohon dan 39 anakan. Pada lokasi pengamatan kedua ditemukan spesies yang mendominasi ialah Rhizopora mucronata dengan jumlah 77 pohon, 13 anakan, dan 4 semai juga ditemukan pula biota asosiasi.Biota asosiasi yang ditemukan pada pengamatan struktur komunitas mangrove diantaranya,littorina (sejenis Gastropoda),kepiting bakau, teritip, kepiting bakau, dan ikan kecil.Biota yang terdapat pada kawasan hutan mangrove sangat beragam karena kaya akan nutrient dan detritus sehingga menjadi daerah asuhan, daerah mencari makan dan daerah pemijahan (Bengen 2004).

Berdasarkan tabel 1 diatas, dapat dilihat bahwa penyebaran mangrove pada Desa Karangjaladri menyebar secara merata dengan ditemukannya pada setiap titik pengamatan. Hutan mangrove didominasi oleh Rhizophora Mucronatadi setiap stasiun pengamatan, pada stasiun 1 INPRhizophora Mucronatasebesar 126.9977 dan di stasiun 2 INP Rhizophora Mucronata sebesar 260. Akan tetapi pada stasiun 3 INP Sonneratia alba lebih mendominasi yaitu sebesar163.7723. Hal ini menunjukkan bahwa Rhizophora Mucronata memiliki kedudukan ekologis yang penting pada wilayah mangrove di wilayah tersebut dibandingkan dengan dua jenis lainnya yaitu Avicennia marina, dan Sonneratia sp. Tingginya nilai INP Rhizophora Mucronatadisebabkan oleh tempat pengamatan yang berada di arah darat, seperti muara dimana substrat cocok bagi pertumbuhan mangrove tersebut.Rhizophora umumnya mendominasi wilayah yang lebih ke arah darat (Bengen 2004).

Nilai kerapatan jenis dan tutupannya lebih besar di stasiun tiga untuk pohon, untuk anakan lebih banyak distasiun dua. Indeks Nilai Penting digunakan untuk menetapkan dominansi suatu jenis terhadap jenis lainnya, dengan kata lain nilai penting menggambarkan kedudukan ekologis suatu jenis dalam komunitas. Nilai INP yang didapat menunjukkan pentingnya Rhizophora di ekosistem mangrove tersebut dan menunjukkan dominansi spesies bakau ini dalam suatu ekosistem. Spesies bakau diparigi lebih dominan dikarenakan mangrovenya merupakan mangrove buatan yang ditanam oleh masyarakat setempat sehingga spesies bakau di Parigi memiliki nilai INP yang tinggi. Penanaman bakau yang dilakukan di Parigi merupakan upaya pencegahan abrasi dan pencegahan terhadap tsunami, dikarenakan daerah Parigi merupakan daerah yang rawan sekali terkena tsunami.

4. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

Mangrove dominan di daerah Desa Karangjaladri Kecamatan Parigi adalah dari jenis Rhizopora mucronata dan memiliki nilai penting terkait dengan fungsi dari mangrove untuk lingkungan sekitarnya, salah satunya merupakan upaya pencegahan abrasi dan pencegahan terhadap tsunami.

4.2. Saran

Pengambilan data sebaiknya dilakukan dengan survey terlebih dahulu untuk mengenali wilayah objek, sehingga mengefektifkan dan mengefisienkan proses pengambilan data.

DAFTAR PUSTAKA

Bengen, Dietriech G, 2004. Pedoman Teknis Pengenalan dan PengelolaanEkosistem
Mangrove, Pusat kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB, Bogor.
FAO. 1982. Management and Utilization of Mangroves in Asia and the Pasific. FAO
Environtmental Paper 3, Rome.
Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan, Jakarta

 

Share/Bookmark