MAHASISWA ITK IKUTI NOBAR DAN BUKBER DI EVENT ‘BANDUNG SAYANG HIU’

Posted on Posted in Eksternal, Kunjungan

1436691180725

Mahasiswa ITK mengikuti acara ‘Bandung Sayang Hiu’ pada tanggal 5 Juli 2015. Acara ini diselenggarakan di IFI Bandung. Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara GreenPeace dengan SaveSharks sebagai bentuk rangkaian Sharks Week International tanggal 5-12 Juli 2015. Acara diisi dengan nonton bareng film dokumenter dengan judul ‘The Auction of Predators’ karya Ichsan Hidayat yang mengambil latar wilayah Tanjung Luar, Lombok. Wilayah ini dikenal sebagai wilayah penangkapan dan ‘pembantaian’ hiu terbesar di Indonesia. Film ini dibuat sebagai bentuk kepedulian terhadap populasi hiu yang menurun drastis dan hanya tersisa 10% dari total keseluruhan yang pernah ada.

Film ini termasuk salah satu upaya dua komunitas tersebut untuk mensosialisasikan kepedulian kepada biota laut yang mulai terancam ini. Selain itu juga untuk membantu mengubah paradoks masyarakat bahwa hiu bukanlah biota yang berbahaya, namun justru harus dilindungi. Tren masa kini, seperti yang terjadi di Amerika Serikat, mengubah pemikiran masyarakat dengan berfoto selfie dengan dikelilingi hiu. Hal ini merupakan upaya untuk menyampaikan siapakah yang predator sebenarnya, hiu atau manusia.

1436691214246

Film ‘The Auction of Predators’ menunjukkan ketergantungan masyarakat lokal terhadap penangkapan hiu. Bahkan di salah satu wilayah sebagian besar masyarakatnya menggantungkan mata pencahariannya sebagai nelayan hiu. Kapal dan seluruh alat penunjang penangkapan didesain untuk menangkap hiu. Indonesia yang dikenal sebagai salah satu negara dengan populasi hiu terbesar, namun ternyata termasuk negara pembantai hiu terbesar pula. Dapat ditemukan berbagai spesies hiu yang menjadi korban ‘pembantaian’ dimulai dari hiu sirip putih, hiu sirip hitam, hiu macan, hiu martil, hingga pari manta. Dari yang baru lahir hingga berbadan sangat besar. Nelayan mengakui sulit untuk mensortir hiu saat penangkapan di laut. Setiap hiu memiliki nilai rupiah, maka nelayan hanya menangkap yang didapat dan membawanya ke pelelangan.

Masyarakat Tanjung Luar, Lombok, sangat fobia terhadap pemberitaan media. Traumatik karena pemberitaan yang ada menyebabkan penurunan pasar hiu di sana.

Salah satu bahan diskusi diantaranya :

  1. Apakah tidak ada mata pencaharian lain bagi masyarakat sana?

Ada, namun masyarakat telah terdoktrin bahwa hiu lebih praktis membuat kaya masyarakat disana

  1. Siapakah yang paling berdosa dalam adanya penangkapan hiu ini?

Para pelaku pasar. Karena adanya pemesanan maka kegiatan ekonomi penangkapan hiu akan terus berlangsung

Maka, solusi bukan hanya sekedar meramaikan media sosial dengan ‘#SaveSharks’ namun tidak memikirkan nasib para nelayan yang telah secara sosial ekonomi bergantung pada keberadaan hiu sebagai tangkapan inti. Diperlukan solusi dari berbagai pihak. Misalkan, pemerintah menggencarkan ‘Gemar Makan Ikan’ sehingga produksi ikan tangkap lebih besar dan pasar hiu akhirnya mati, serta bertindak tegas terhadap para pelaku pasar gelap dan pemesan hiu. Sehingga pada akhirnya nelayan dapat beralih mata pencaharian karena tingginya tingkat pesanan ikan non hiu.

1436691266112

-Nurhaya Afifah (ITK 49)

Share/Bookmark