Batimetri Perairan Teluk Kiluan

Posted on Posted in Uncategorized

Batimetri Perairan Teluk Kiluan

Fadlil Pungkas1 , Nurhaya Afifah1

1Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Institut Pertanian Bogor

Email: ekspedisihimiteka@gmail.com

ABSTRAK

Kegiatan eksplorasi kelautan dapat berupa pengukuran dan pemetaan topografi dasar laut atau dikenal dengan batimetri. Informasi kedalaman dasar laut (batimetri) sangat penting dalam kegiatan pemanfaatan ruang di wilayah pantai dan menganilis resiko dari kegiatan lepas pantai di suatu wilayah. Tujuan dari pengambilan data batimetri adalah menunjukkan peta batimetri dari Perairan Teluk Kiluan, lampung. Pengukuran kedalaman laut (survey batimetri) dilakukan menggunakan single beam echosounder (GPS Map Sounder 585) pada tangal 31 Mei dan 1 Juni 2015, dan pengukuran pasang surut air laut menggunakan Mori tide pada tanggal 30 Mei-2 Juni 2015. Data hasil pengukuran di lokasi penelitian selanjutnya dianalisis dan diolah menggunakan bantuan perangkat lunak Surfer 11, ArcGIS 10.2.2, dan Global Mapper 13, sehingga mendapatkan informasi kedalaman laut (batimetri) dan morfologi dasar laut di Perairan Teluk Kiluan, Lampung. Hasil Pengamatan menunjukkan Kedalaman perairan di Teluk bagian dalam berkisar 0-20 m, kedalaman dibagian agak keluar berkisar 20-40 m, dan kedalaman di luar Teluk Kiluan >40 m.

Kata kunci:       batimetri, single beam, teluk kiluan.

ABSTRACT

Marine exploration activities may include measuring and mapping the seabed topography, known as bathymetry. Information seabed depth (bathymetry) is essential in the utilization of space in coastal areas and analyze the risks of offshore activities in the region. The purpose of the bathymetric data collection is to show bathymetric map of Kiluan Bay, Lampung. Measurements of ocean depth (bathymetry survey) was conducted using a single beam echosounder (GPS Map 585 Sounder) on the date May 31 and June 1, 2015, and the measurement of the tide using Mori tide on 30 May-2 June 2015. Data on the location of the measurement results further research is analyzed and processed using the software Surfer 11, ArcGIS 10.2.2, and Global Mapper 13, so getting the information ocean depths (bathymetry) and the morphology of the seabed in the Gulf waters Kiluan, Lampung. Observations show the depth of the waters of the Gulf inside the range of 0-20 m, depth section rather out around 20-40 m, and a depth beyond the Kiluan Bay is > 40 m.

Key Words: bathymetri, single beam, Kiluan Bay

  1. PENDAHULUAN
    • Latar Belakang

Teluk Kiluan adalah teluk kecil yang merupakan bagian dari Teluk Semangka di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Topografi wilayah Pekon Kiluan Negeri sangat beragam. Wilayahnya terdiri dari daratan, persawahan, hingga perbukitan, dengan ketinggian wilayah bervariasi, mulai dari ketinggian 5-400 meter dpl. Berdasarkan pengamatan, Teluk Kiluan merupakan teluk yang dikelilingi oleh perbukitan dengan wilayah dataran sempit (Bappeda Tanggamus 2008).

Salah satu kegiatan eksplorasi kelautan adalah pengukuran dan pemetaan topografi dasar laut atau dikenal dengan batimetri (Masrukhin et al 2014). Informasi kedalaman dasar laut (batimetri) sangat penting dalam kegiatan pemanfaatan ruang di wilayah pantai dan menganilis resiko dari kegiatan lepas pantai di suatu wilayah. Menurut Poerbandono dan Djunarsjah (2005) batimetri adalah proses penggambaran dasar perairan sejak pengukuran, pengolahan, hingga visualisasi.

Perairan Teluk Kiluan yang berhadapan dengan Samudera Hindia memberikan kelebihan karakteristik berupa perpaduan laut dangkal dan laut dalam. Kondisi kedalaman perairan yang cukup kompleks ini mempengaruhi ekosistem perairan di sekitarnya. Diperlukan informasi dan visualisasi mengenai kedalaman dasar laut (batimetri) guna analisis sumberdaya hayati laut di sekitar perairan tersebut. Selain itu, banyaknya kegiatan perikanan membutuhkan pengetahuan daerah lintasan yang bisa dilalui kapal dan menghindari kandasnya kapal selama pelayaran.

  • Tujuan

Tujuan dari pengambilan data batimetri adalah menunjukkan visualisasi dari kontur kedalaman Perairan Teluk Kiluan, Lampung berupa peta batimetri yang selanjutnya dapat digunakan bahan analisa kondisi sumberdaya hayati laut di sekitarnya dan informasi daerah lintasan kapal untuk menghindari terjadinya kandas kapal.

  1. METODOLOGI
    • Alat dan Bahan

Laptop, Memory Card 4 GB, Echosounder GPS Map 585, perahu jukung, accu, tali tis, life jacket, mori tide, alat tulis kantor

  • Waktu dan Tempat

Pengambilan data batimetri dilaksanakan pada tanggal 31 Mei hingga 1 Juni 2015 di wilayah perairan Teluk Kiluan dan Pulau Kiluan, Desa Kiluan Negeri, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Berikut merupakan peta wilayah pengambilan data ekosistem mangrove (Gambar 1).

petaGambar 1. Peta Lokasi Pengambilan Data di Teluk Kiluan, Lampung

  • Metode Pengambilan Data

Berikut adalah prosedur kerja yang dilakukan dalam pengambilan data batimetri.

Gambar 2. Diagram alir pengambilan data batimetri

Penentuan dan pembuatan perencanaan tracking (jalur sounding) dan rencana atau desain survey batimetri (paralel transek atau triangular transek) kemudian transfer ke dalam memory alat (GPSMap 585). Jalur sounding adalah jalur perjalanan kapal yang melakukan sounding dari titik awal sampai ke titik akhir dari kawasan survei. Jarak antar jalur sounding tergantung pada resolusi ketelitian yang diinginkan.

Titik awal dan akhir untuk tiap jalur sounding dicatat dan kemudian diinput ke dalam alat pengukur yang dilengkapi dengan fasilitas GPS, untuk dijadikan acuan lintasan perahu sepanjang jalur sounding. Ketahui panjang dan lebar tracking kapal (panjang transek), kecepatan kapal, dan durasi waktu tracking. Panjang transek yang telah dibuat di aplikasi seperti Map source dan Google Earth, kecepatan kapal biasanya 3-5 knot dan durasi waktu tracking sekitar 3-5 jam. Siapkan sarana dan instalasi alat yang akan digunakan untuk survey batimetri

Peralatan survei yang diperlukan pada pengukuran batimetri diantaranya : Echo Sounder GPSMap dan perlengkapannya; Notebook; Satu unit portable computer; Perahu; Papan pasut; Peralatan keselamatan antara lain life jacket.

Melakukan percobaan terlebih dahulu (pemanasan) untuk memastikan peralatan survey siap guna. Ada baiknya pada hari sebelum survey sebenarnya dilaksanakan, diadakan pemanasan dan pengenalan wilayah survey guna memastikan kemantapan peralatan untuk digunakan. Membuat lembar kerja (log book) yang sesuai dengan Badan Standar Nasional. Pembuatan lembar kerja sebaiknya disiapkan sebelum berada di tempat pengambilan data, dan format harus disesuaikan dengan Badan Standar Nasional, agar data yang dibutuhkan tercakup dalam lembar kerja tersebut.

Melakukan check data sebelum dan sesudah pengambilan data. Pastikan data yang dibutuhkan sudah semua terambil sebelum meninggalkan wilayah survey, sehingga tidak ada pengulangan yang tidak dibutuhkan dan menyita waktu kedepannya.

Extract data yang didapat dari GPSMap 585 dengan memindahkan memori dari GPSMap 585 kedalam memori komputer dengan mentransferkannya. Koreksi data yang didapat dengan data draft transducer dan pasut . Hasil data pengukuran memerlukan koreksi untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, diantaranya koreksi draft kapal dan koreksi pasut yang didapat dari pengamatan menggunakan motiwali atau mori tide.

Olah data dengan memakai data koordinat dan kedalaman hasil tracking lalu pisahkan menjadi 3 kolom: latitude, longitude, dan kedalaman (sesuai susunan dalam penentuan batimetri dengan Surfer 9). Olah menggunakan aplikasi pengolah data batimetri seperti surfer, global mapper dan ArcMap 10 sehingga tersaji peta batimetri.

  • Metode Analisis Data

Analisis data batimetri dengan mengolah data yang didapat dari hasil survey lapang kedalam computer dengan menggunakan beberapa aplikasi.Pertama extract data dari alat kedalam Ms. Excel. Kemudian olah di aplikasi Surfer 10. Buat lembar kerja baru (New Worksheet). Salin (Copy) data batimetri dari Ms. Excel ke sheet tersebut dengan terlebih dahulu mengetahui kolom x sebagai lintang, y sebagai bujur, dan z sebagai kedalaman. Pada baris pertama dalam sheet dikosongkan untuk menulis jumlah data yang dimiliki dan sedang diolah. Grid data yang ada dalam sheet tersebut.

Lokasi survey dapat diketahui dengan menyesuaikan SHP Indo Full. Pilih Map à New àBase map dan masukkan data SHP Indo Full yang dimiliki kemudian sesuaikan dengan hasil kontur dari data yang telah di grid sebelumnya ( NewCountour Map). Selanjutnya overlay kedua peta tersebut dan akan didapat lokasi survey batimetri yang telah dilaksanakan. Beri warna pada kontur batimetri yang telah didapat agar lebih menarik dan terlihat perbedaannya di setiap kedalaman. Sempurnakan dengan member keterangan-keterangan tambahan seperti arah mata angin dll.

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN
    • Hasil

batimetri 2d

Gambar 4. Peta Batimetri Teluk Kiluan Lampung dalam 2D

batimetri 3dGambar 5. Model Batimetri Teluk Kiluan dalam 3D

  • Pembahasan

Hasil perekaman data batimetri setelah dikoreksi draft transduser di Teluk Kiluan memiliki kedalaman 0-4 m. Peta batimetri 2D ditampilkan menggunakan metode interpolasi idw di software ArcMap 10. Kedalaman perairan di Teluk bagian dalam berkisar 0-20 m, kedalaman dibagian agak keluar berkisar 20-40 m, dan kedalaman di luar Teluk Kiluan >40 m. Berdasarkan hasil pemetaan batimetri terdapat perbedaan kedalaman antara bagian utara dan bagian selatan Pulau Kelapa. Bagian utara Pulau Kelapa memiliki kedalaman berkisar 0-18 m, sedangkan bagian selatan Pulau Kelapa cenderung lebih dalam yaitu berkisar 0-39 m.

  1. SIMPULAN DAN SARAN
    • Simpulan

Berdasarkan survey batimetri yang telah dilakukan di sekitar Teluk Kiluan, Lampung diperoleh profil batimetri Teluk Kiluan memiliki kedalaman yang cukup variatif. Bagian dalam teluk berkisar 0-20 m, sedangkan bagian agak keluar berkisar 20-40 m, dan kedalaman di luar Teluk Kiluan >40 m. Berbeda halnya dengan kedalamn pada bagian utara dan selatan Pulau Kelapa masing-masing berkisar 0-18 meter dan 0-39 meter.

  • Saran

Perlu dilakukannya monitoring pemetaan batimetri di Teluk Kiluan untuk mengetahui pengaruh laju sedimentasi maupun laju abrasi untuk terjaganya kondisi alami keindahan Teluk Kiluan, Lampung

 DAFTAR PUSTAKA

Bappeda Tanggamus. 2008. Studi Pengembangan Objek Wisata Teluk Kiluan . Lap. Akhir. CV.Medianas Binatama & CV.Media Karya. B. Lampung.

Masrukhin MAG, Sugianto DN, Satriadi A. 2014. Studi batimetri dan morfologi dasar laut dalam penentuan jalur peletakan pipa bawah laut (Perairan larangan-maribaya, kabupaten Tegal). Jurnal Oseanografi. Vol 3(1): 94-104

Poerbandono.,dan Djunarsjah, Eka. 2005. Survei Hidrografi. Bandung: PT. Refika Aditama.

Share/Bookmark