Kondisi Komunitas Dasar Perairan Terumbu Karang Teluk Kiluan dan Sekitarnya

Posted on Posted in Uncategorized

Kondisi Komunitas Dasar Perairan Terumbu Karang Teluk Kiluan dan Sekitarnya

Aflaha Abdul Munib, Amri Sabrian, Triana, Yuda Alam Perdana

Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Institut Pertanian Bogor

Email: ekspedisihimiteka@gmail.com

ABSTRAK

Terumbu karang merupakan lingkungan yang sangat produktif, baik dari segi ekologi maupun ekonomi. Ekosistem terumbu karang memiliki andil penting dalam produktivitas dan keanekaragaman jenis biota. Teluk Kiluan merupakan bagian dari Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung dengan beberapa pulau yang berada disekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur persen tutupan dan mengidentifikasi potensi ekosistem terumbu karang. Pengambilan data pada komunitas bentik terumbu menggunakan metode Line Intersect Transect (LIT). Secara umum kondisi substrat didominasi oleh karang keras (hard coral). Nilai tutupan karang keras mencapai presentase 12%-97%. Nilai persentase tutupan tertinggi berada di bagian barat pulau Kiluan sedangkan nilai terendah di bagian selatan Teluk Kiluan. bagian barat pulau Kiluan tergolong dalam kategori sangat baik dan bagian selatan Teluk Kiluan tergolong dalam kategori buruk.

Katakunci: line intercept transect, persentase penutupan, terumbu karang, teluk Kiluan

ABSTRACT

Coral reefs are highly productive environment, both in terms of ecology and economy. Coral reef ecosystems have contributed significantly to the productivity and diversity of biota. Kiluan bay is a part of Tanggamus, Lampung Province, with some island near of the bay location. This study aims to measure the percent cover and identifying potential coral reef ecosystems. Collecting data on benthic reef communities using Intersect Line Transect (LIT). In general, the condition of the substrate dominated by hard corals. The value of hard coral cover reaching a percentage of 12%-97%. The highest cover percentage value is in the western part of the island Kiluan while the lowest value in the southern part of the Kiluan Bay. According to Gomez and Yap (1988) western part of the island Kiluan classified in the category very good and the southern part of the Kiluan Bay classified in the category of bad.

Keywords: line intercept transect, percent cover, coral reefs, Kiluan bay

 

  1. PENDAHULUAN
    • Latar Belakang

Wilayah pesisir dan lautan merupakan kawasan yang menyimpan kekayaan sumberdaya alam yang sangat berguna bagi kepentingan manusia. Potensi sumber daya pesisir dan laut di Indonesia begitu beragam baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Salah satu potensi pesisir dan lautan yang dimiliki ialah ekosistem terumbu karang yang memiliki manfaat bagi manusia dalam fungsi ekologi, perikanan, perlindungan pantai, dan pariwisata. Terumbu karang merupakan lingkungan yang sangat produktif, baik dari segi ekologi maupun ekonomi. Nilai total tahunan barang dan jasa yang dipasok ekosistem ini berupa pangan, perlindungan pantai, pariwisata, aktivitas rekreasi, bahan bangunan dan persediaan minyak (Reid et al 2009). Selain itu, ekosistem terumbu karang memiliki andil penting dalam produktivitas dan keanekaragaman jenis biota yang tinggi (Sukmara et al 2001). Ekosistem terumbu karang dapat hidup lebih dari 300 jenis karang, 2000 jenis ikan dan berpuluh puluh jenis molluska,crustacea, sponge, algae, lamun dan biota lainnya (Dahuri 2003).

Keberlangsungan dan ragam kehidupan terumbu karang cukup rentan terhadap perubahan, baik perubahan berasal dari faktor alam dan atau aktivitas manusia. Energi gelombang dan ombak merupakan faktor alam yang dapat merusak terumbu karang sedangkan pariwisata, penangkapan ikan tidak ramah lingkungan dan penggunaan wilayah pesisir yang terlalu berlebihan merupakan penyebab kerusakan yang berasal dari faktor manusia.Desa Kiluan merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi pesisir laut. Desa Kiluan merupakan bagian dariKabupaten Tanggamus Provinsi Lampung yang memiliki wilayah teluk didalamnya, dengan beberapa pulau yang berada di lokasi teluk.

1.2 Tujuan

Pentingnya pengambilan data komunitas dasar terumbu karang adalah agar dapat diketahui kondisi terkini terumbu karang di daerah pesisir. Hal tersebut dapat terwakili dengan melakukan pengambilan data di titik-titik penyelaman yang telah ditentukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur persen tutupan dan mengidentifikasi potensi ekosistem terumbu karang.

  1. METODOLOGI
  • Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan diantaranya set scuba, set alat dasar selam, kapal, pensil, newtop, roll meter, dan underwater camera.

  • Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di perairan Teluk Kiluan, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung yang berlangsung dari tanggal 28 Mei sampai 3 Juni 2015. Pengamatan dilakukan pada 5 stasiun pengamatan di lokasi teluk Kiluan.

  • Metode Pengambilan Data

Pengambilan data pada komunitas bentik terumbu menggunakan metode Line Intersect Transect (LIT) (English et al, 1994). Metode ini digunakan untuk mengetahui jumlah komunitas bentik yang sessile, mengestimasi penutupan karang pada satu atau beberapa life form di suatu wilayah tertentu (Gates, 1979). Pengamatan karang dilakukan pada satu kedalaman, yaitu kedalaman 5-6 meter. Letak transek adalah sejajar garis pantai dan dianggap mewakili kondisi karang di daerah tersebut. Pengambilan data dilakukan sepanjang 75 meter sebanyak tiga kali ulangan, masing-masing dengan panjang transek 20 meter dan jeda lima meter.

  • MetodeAnalisis Data

Persentase penutupan karang

Persen penutupan karang hidup (percent cover) dari setiap kedalaman dan setiap stasiun penyelaman dihitung dengan menggunakan rumus (English et al 1994):

Li = li/N x 100%

Keterangan :

Li = Persentase penutupan karang (%)

li   = Panjang jenis life form kategori ke-i

N = Panjang transek (6000 cm)

Sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 04/MENLH/02/2001 tentang Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang dan pengelompokan kategori kondisi terumbu karang, dibagi menjadi 4 (empat) kategori, yaitu buruk, sedang, baik dan baik sekali (Tabel 2.1).

Tabel 2.1 Kategori tutupan karang hidup (Menteri LH No. 02/2001)

Kategori tutupan karang hidup Persentase tutupan karang
Buruk 0-24,9%
Sedang 25-49,9%
Baik 50-74,9%
Sangat Baik 75-100%

Indeks mortalitas karang (IMK) menyatakan tingkat kematian karang pada masing-masing daerah pengamatan. Indeks mortalitas karang menunjukkan adanya perubahan dari karang hidup ke karang mati. Nilai IMK mendekati nol menandakan bahwa tidak ada kematian yang berarti dan sebaliknya jika nilai IMK mendekati satu, hal ini mengindikasikan bahwa terjadi kematian karang yang cukup signifikan. Nilai indeks didapat dengan menggunakan rumus:

IMK = A/(A+B)

Keterangan:

Imk   = indeks mortalitas karang

A       = persentase karang mati

B       = persentase karang keras hidup

  • HASIL DAN PEMBAHASAN
    • Hasil
Lokasi Penyelaman Abiotic Hard Coral Soft Coral Makro Alga Dead Coral with Alga Others IMK
Utara Pulau Kiluan 3.90 78.70 0.00 17.40 0.00 0.00 0.00
Barat pulau Kiluan 2.80 97.20 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Selatan Pulau Kiluan 26.35 13.75 0.00 14.80 45.10 0.00 0.77
Utara Teluk Kiluan 13.95 50.85 1.25 2.35 31.60 0.00 0.38
Selatan Teluk Kiluan 56.90 12.00 0.00 0.00 31.10 0.00 0.72

chart1

chart1

 

  • Pembahasan

Pengambilan data komunitas substrat dasar perairan yang diperoleh menggunakan metode LIT (Line Intercept Transect) atau metode garis menghasilkan data mengenai persentase tutupan kategori dasar perairan, bentuk pertumbuhan (life form), genus karang dan indeks mortalitas karang keras (hard coral).

Secara umum kondisi substrat didominasi oleh karang keras (hard coral). Nilai tutupan karang keras mencapai presentase 12%-97%. Nilai persentase tutupan tertinggi berada di bagian barat pulau Kiluan sedangkan nilai terendah di bagian selatan Teluk Kiluan. Menurut Gomez dan Yap (1988) bagian barat pulau Kiluan tergolong dalam kategori sangat baik dan bagian selatan Teluk Kiluan tergolong dalam kategori buruk.

Kategori abiotik yang terdiri dari dominasi tutupan pasir dan patahan karang (rubble) dengan nilai persentase tinggi berada di bagian Selatan Teluk Kiluan mencapai 56%. Kategori lainnya, yaitu karang lunak (soft coral), makro alga, dan dead coral with algae memiliki nilai yang tidak terlalu mendominasi. Tutupan karang mati dengan ditutupi alga yang memiliki nilai cukup besar berada di lokasi Selatan Pulau Kiluan (45%), Utara Teluk Kiluan dan Selatan Teluk Kiluan (31%).

Keberadaan makro alga merupakan persaingan alam yang dapat menurunkan penutupan terumbu karang karena proses pertumbuhan makro alga yang cukup cepat dari pada pertumbuhan karang. Sehingga tekanan yang diberikan akan menjadikan karang menjadi mati akibat tertutupi alga.Keberadaan makro alga akan lebih mendominasi apabila ikan herbivor yang jumlahnya tidak sebanding.

Bentuk Pertumbuhan Karang

Jenis – jenis bentuk pertumbuhan (life form) yang ditemukan di seluruh titik penyelaman beragam mencapai 9 bentuk pertumbuhan. Bentuk pertumbuhan didominasi oleh life form acropora bercabang (ACB )mencapai 51%. Menurut Smith dan Hughes (1999) terumbu karang dengan bentuk pertumbuhan branching cenderung dapat tumbuh lebih cepat dibanding dengan bentuk pertumbuhan lainnya namun di sisi lain memiliki kerentanan yang lebih terhadap gangguan karena strukturnya yang bercabang dan mudah patah.

Berdasarkan 5 titik penyelaman yang dilakukan, ditemukan 10 genus terumbu karang, antara lain: Acropora, Porites, Cyphastrea, Goniopora, Favia, Galaxea, Heliopora, Montipora, Oxypora, dan Pocillopora. Kesepuluh genus tersebut dominasi menghuni dasar perairan Pulau Kiluan dengan berbagai life form.

Indeks Mortalitas Karang di Pulau Kiluan

Terumbu karang memiliki Indeks Mortalitas Karang yang tinggi berada di bagian selatan pulau Kiluan dan teluk Kiluan sebesar 0,77 dan 0,72. Hal tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan yang cukup berarti bagi terumbu karang karena cenderung mendekati angka satu, yaitu berada pada peralihan antara dominansi komunitas karang hidup menuju karang mati. Kondisi bagian selatan merupakan wilayah yang mendapat pengaruh gelombang cukup besar yang berasal dari samudera Hindia

  • SIMPULAN DAN SARAN
    • Simpulan

Kegiatan pengamatan ekosistem terumbu karang menunjukkan bahwa kondisi substrat didominasi oleh karang keras (hard coral) yang termasuk dalam kategori sangat baik dan bagian selatan Teluk Kiluan tergolong dalam kategori buruk. Nilai persentase tutupan tertinggi berada di bagian barat pulau Kiluan sedangkan nilai terendah di bagian selatan Teluk Kiluan.

Jenis – jenis bentuk pertumbuhan yang ditemukan mencapai 9 bentuk pertumbuhan dan didominasi oleh life form acropora bercabang (ACB). Selain itu, genus pada tutupan karang didominasi oleh genus Acropora.

  • Saran

Perlu dilakukan monitoring terhapap tutupan terumbu karang secara berkala untuk melihat persentase pertumbuhannya.

DAFTAR PUSTAKA

Dahuri R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut, Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Gates B C, Katzer JR, Schuit GC.. 1979. Chemistry of Catalytic Processes.New York: McGraw – Hill Book Company.

Gomez ED & H Yap. 1988. Monitoring reef condition. dalam kenchington, r. a. & b. hudson e. t. (ed). coral reef management hand book.Unesco Regional Office for Science and Technology for South East Asia. Jakarta.

KMNLH. 2004. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.51/2004 Tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Air Laut. Jakarta: Kementrian Negara Lingkungan Hidup.

Smith LD and Hughes TP. 1999. An experimental assessment of survival, reattachment and fecundity of coral fragments. J Exp Mar Biol Ecol 235:147–164.

Sukmara A, Siahainenia AJ, Rotinsulu C. 2001. Panduan Pemantauan Terumbu Karang Berbasis Masyarakat dengan Metoda Manta Tow. Proyek Pesisir. Publikasi Khusus. University of Rhode Island, Coastal Resources Center, Narragansett, Rhode Island, USA.

 

LAMPIRAN

Share/Bookmark