Pemetaan Garis Pantai, Infrastruktur dan Ekosistem Bentik Teluk Kiluan Lampung, Kabupaten Tanggamus

Posted on Posted in Uncategorized

Pemetaan Garis Pantai, Infrastruktur dan Ekosistem Bentik

Teluk Kiluan Lampung, Kabupaten Tanggamus

Ema Sari Angesti1, Paradita Hasanah2, Abrrar Adinul3, Triana4, Rivalni Septiadi5

1Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Institut Pertanian Bogor

Email: ekspedisihimiteka@gmail.com

ABSTRAK

Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui garis pantai, infrastruktur dan ekosistem bentik di Teluk Kiluan. Metode yang digunakan adalah marking dan tracking dengan menggunakan GPS hand. Data analisis yang dihasilkan berupa nilai lintang dan bujur dari pulau. Hasil yang diperolah adalah Teluk kiluan masih termasuk dalam ekosistem yang baik, dilihat dari keragaman jenis ekosistem bentik yang ditemui. Hal ini disebabkan oleh jumlah penduduk yang mendiami pulau masih sedikit ini dibuktikan dengan masih sedikitnya infrastrukur yang ditemui di pulau, sehingga membuat ekosistem masih terjaga dengan baik.

Kata Kunci: Ekosistem Bentik, Garis Pantai dan Infrastruktur

ABSTRACT

These observations were done to determine the coastline, infrastructure and benthic ecosystems on the Kiluan Bay. The method used marking and tarcking with GPS Hand. The data analysis results in the form of latitude and longitude value from the island. The observation resultst Kiluan Bay is good ecosystem, as seen from the diversity of the benthic habitat type is encountered. This is caused by a population that inhabit the island still little is evidenced by at least infrastructure still found on the island, this making the ecosystems are still well preserved.

 Keywords: Benthic Ecosystems, Coastline and Infrastructure

PENDAHULUAN

Perairan Teluk Lampung merupakan salah satu contoh daerah pesisir yang digunakan untuk berbagai kegiatan seperti perikanan tangkap, budidaya mutiara, pariwisata, pelayaran, pelabuhan, pemukiman, maupun kegiatan perdagangan (Pariwono 1999). Dalam upaya mengelola sumberdaya pesisir dengan tetap mempertahankan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan diperlukan pengetahuan yang baik tentang potensi sumberdaya alam (hayati dan non-hayati). Salah satu aspek penting yang harus diketahui agar pengelolaan lingkungan dapat dilaksanakan dengan tepat yaitu mengetahui sumberdaya hayati potensial di Teluk Lampung.

Teluk Kiluan merupakan suatu teluk kecil yang terdapat di dalam Teluk Semangka dan masih medapat pengaruh secara langsung dari Samudera Hindia. Teluk Kiluan mempunyai keanekaragaman hayati (biodiversitas) yang sangat tinggi meliputi ekosistem terumbu karang, ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan Teluk Kiluan merupakan salah satu jalur transmigrasi lumba-lumba.

Pemetaan sumberdaya hayati dilakuakan dengan tiga macam pemetaan yaitu pemetaan garis pantai, pemetaan infrastruktur dan pemetaan ekosistem bentik Teluk Kiluan dan sekitarnya. Pemetaan ini dilakukan karena kekayaan alam di Teluk Kiluan masih belum terpetakan dengan baik sehingga diperlukan pengambilan data pemetaan sumberdaya hayati di Teluk Kiluan.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan garis pantai, infrastruktur dan ekosistem bentik di Teluk Kiluan Lampung.

METODOLOGI

  • Waktu dan Tempat

Lokasi penelitian yang dilaksanakan pada tanggal 30 Mei sampai 4 Juni 2015 terletak di perairan Teluk Kiluan Lampung, Kabupaten Tanggamus. Secara geografis Teluk Kiluan yang berjarak tidak terlalu jauh dari kota Bandar Lampung, terletak pada 103040’ BT – 105050’ BT dan 03045’ LS – 06045’ LS. Penelitian ini meliputi pengambilan data garis pantai, infrastruktur dan ekosistem bentik di Teluk Kiluan Lampung tersebut.

peta tanggamusGambar 1. Peta Lokasi Pengambilan Data di Teluk Kiluan, Lampung

  • Alat dan Bahan

Alat yang digunakan untuk menentukan titik lokasi penelitian, peralatan dasar selam untuk mobilitas dan membantu dalam proses pengambilan data didalam air, tali rapia untuk transek pengamatan, alat tulis bawah air (sabak dan pensil) untuk mencatat data hasil pengamatan, dan kamera underwater sebagai alat dokumentasi. Pengambilan data garis pantai dan infrastruktur pulau hanya menggunakan GPS Hand dan alat tulis saja. Alat yang digunakan dalam pengolahan data citra adalah perangkat computer yang dilengkapi dengan perangkat lunak seperti ArcGis 10.2, Global Mapper 13, dan Microsoft Office 2013. Bahan penelitian berupa data citra dari Google Earth 2014 dan data hasil lapang berupa titik koordinat lintang dan bujur serta keterangan jenis habitat.

  • Prosedur

Tahap penelitian ini terdiri atas beberapa tahapan yakni: tahap pengumpulan data, tahap pengolahan citra awal, tahap survei lapangan, dan tahap pengolahan citra lanjutan. Secara sederhana tahap-tahap dalam penelitian ini disajikan dalam diagram alir pada Gambar 2.

  • Pengumpulan Data

Tahap pertama adalah tahap pengumpulan data. Tahap ini dilakukan pengumpulan data yang berkaitan dengan informasi data citra yang digunakan dalam penelitian dan pengumpulan informasi dasar perairan dangkal di daerah penelitian.

  • Pengolahan Citra Awal
  1. Pemotongan Citra (Image Cropping)

Pemotongan citra diperlukan untuk menghasilkan satu daerah tertentu yang sesuai dengan penelitian, sehingga hasil lebih terfokus pada daerah yang telah dijadikan titik penelitian.

  1. Koreksi Citra

Diperlukan adanya suatau pengkoreksian data dari citra satelit guna mengurangi distorsi atau gangguan yang ditimbulkan dari beberapa factor, diantaranya pergeseran posisi citra akibat kelengkungan bumi, partikel-paretikel atmosferik yang mampu memantulkan dan menyerap energi gelombanng elektromagnetik (Blaschke 2010)

  1. Masking Citra

Masking bertujuan untuk menghilangkan nilai spektral dari daratan, hanya menampilkan lautan saja, sehingga interpretasi selanjutnya nilai daratan tak dihitung lagi.

  • Survey Lapang

Tahap survei lapangan dilakukan untuk mengetahui objek yang sebenarnya di lapangan. Apabila terdapat objek yang sama tetapi pada citra hasil klasifikasi berbeda warna maka perlu dilakukan penggabungan kelas, sehingga kelas yang terbentuk sesuai dengan kondisi di lapangan. Proses ini dilakukan pada tahap reklasifikasi (klasifikasi ulang).

  • Pengolahan Citra Lanjutan

Citra yang dihasilkan dengan transformasi algoritma selanjutnya diklasifikasi ulang. Kelas yang memiliki kedekatan nilai spektral (nilai spektral yang hampir sama) dijadikan dalam 1 kelas, atau kelas yang berbeda tetapi memiliki objek yang sama juga dilakukan penggabungan ke dalam satu kelas. Penggabungan kelas dilakukan setelah dilakukan survei lapangan. Data dari survei lapangan dijadikan sebagai acuan dalam melakukan penggabungan kelas (Breiman 2001).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pemetaan di daerah Teluk Kiluan dan Pulau Kelapa dilakukan dengan tiga macam pemetaan yaitu pemetaan infrastruktur, garis pantai dan ekosistem bentik.

  • Pulau Kelapa/Kiluan

Dibawah ini merupakan gambar hasil pemetaan ekosistem bentik dan infrastruktur di Pulau Kelapa, Teluk Kiluan Lampung.

5Gambar 3. Pemetaan Infrasturktur dan Ekosistem Bentik di Pulau Kelapa

Keadaan infrastuktur di Pulau Kelapa masih sangat minim. Hal ini dikarenakan Pulau Kelapa merupakan pulau kecil dan belum berpenduduk. Di Pulau Kelapa terdapat 3 tempat menginap (mess) dan 1 warung. Tempat penginapan 1 (mess 1) bertempat di pinggir pantai mempunyai 4 buah kamar tidur. Tempat penginapan 2 (mess 2) berlokasi di tengah pulau mempunyai 6 buah kamar dan tempat penginapan 3 (mess 3) yang berlokasi di pinggir warung merupakan tempat tinggal pengelola Pulau Kelapa.

Sarana dan prasarana di Pulau Kelapa masih sangat minim. Hal ini ditandai dengan air bersih dan air tawar yang terbatas serta keadaan kamar mandi yang kurang bersih. Untuk transportasi menuju Pulau Kelapa menggunakan jukung atau perahu kecil yang memuat penumpang maksimal 4 orang beserta pengemudi.

Keadaan ekosistem bentik di Pulau Kelapa masih tergolong sangat baik. Hal ini ditandai dengan hasil pemetaan ekosistem bentik yang didominassi oleh karang hidup dan algae. Berdasarkan Gambar 2 di sebelah utara Pulau Kelapa didominasi oleh karang hidup dan pasir berlagae. Kerusakan karang di utara Pulau Kelapa masih sangat kecil dikarenakan masih belum banyaknya aktivitas manusia di Pulau Kelapa yang dapat mengancam dan merusak ekosistem bentik.

Keadaan ekosistem bentik di bagian timur Pulau Kelapa didominasi oleh pasir dan pasir berkarang. Karang di timur Pulau Kelapa masih tergolong bagus dan masih sedikit kerusakan. Kerusakan pada terumbu karang diakibatkan oleh arus musiman yang berasal dari Samudera Hindia. Pengambilan data di Pulau Kelapa bertepatan dengan musim timur yang mempunyai kisaran kecepatan arus 1 cm/s sampai 36 cm/s. Arus pada musim barat lebih besar dibandingkan dengan musim timur. Kisaran kecepatan arus pada musim barat yaitu 27 cm/s hingga 45 cm/s (Pariwono 1999).

  • Teluk Kiluan

Dibawah ini merupakan gambar hasil pemetaan infrastruktur dan ekosistem bentik di Teluk Kiluan Lampung.

55Gambar 4. Pemetaan Infrastruktur dan Ekosistem Bentik di Teluk Kiluan Lampung

Keadaan infrastruktur di daerah Teluk Kiluan lebih memadai jika dibandingkan dengan Pulau Kelapa. Hal ini dikarenakan di Teluk Kiluan banyak terdapat penduduk dari berbagai suku seperti suku jawa, sunda, bali dan batak. Akibat dari beragamnya suku di Teluk Kiluan maka terdapat banyak sarana dan prasarana yang disediakan seperti masjid, pura dan gereja. Selain sarana ibadah, di Teluk Kiluan juga terdapat sarana pendidikan, kesehatan, perangkat desa, gedung pertemuan dan sarana pemerintah seperti PLN.

Keadaan infrastruktur secara keseluruhan di Teluk Kiluan masih kurang memadai dan keadaan jalan yang kurang bagus dan belum terbangun secara merata. Rata-rata mata pencaharian penduduk kiluan yaitu sebagai nelayan dan jasa wisata. Keadaan air bersih dan air tawar di Teluk Kiluan tergolong bagus karena bersumber langsung dari pegunungan di desa kiluan.

Ekosistem bentik di Teluk Kiluan didominasi oleh lumpur berlamun, lumpur ber-rubble, rubble berkarang dan pasir berkarang. Disebelah selatan Teluk Kiluan, ekosistem bentik yang mendominasi yaitu rubble dan karang. Keadaan karang di selatan Teluk Kiluan masih sangat rapat dan alami. Hal ini dikarenakan arus yang relatif lemah dan aktivitas manusia yang masih sedikit (Pariwono 1999). Selain karang dan rubble, ditemukan juga rubble beralgae, pasir ber-rubble dan pasir.

Keadaan ekosistem bentik di utara Teluk Kiluan didominasi oleh lumpue, lumpur berlamun dan lumpur ber-rubble. Di utara Teluk Kiluan merupakan daerah yang banyak di huni oleh penduduk. Oleh karen itu, di utara Teluk Kiluan banyak terdapat lumpur yang disebabkan oleh buangan limbah rumah tangga yang langsung menuju teluk. Selain terdapat lumpur berlamun dan lumpur ber-rubble, terdapat juga ekosistem bentik algae, alga berlamun, algae berlumpur, batu berlumpur.

  • Garis Pantai Pulau dan Teluk

Garis pantai merupakan garis imajiner tempat air dan daratan bertemu. Garis pantai dapat berubah tempat akibat berbagai fenomena yang terjadi disekitar garis pantai. Pembentuk utama kontur garis pantai adalah gelombang dan arus laut (Triatmodjo 2003).

6Gambar 5. Peta Tracking Garis Pantai Pulau dan Teluk Kiluan Lampung

Pengambilan data garis pantai, tim menggunakan GPS Hand dengan metode tracking menyusuri batas air laut dan darat bertemu saat pasang tertinggi harian. Pasang yang terjadi baik pulau maupun teluk cukup tinggi hal ini dilihat dari perubahan garis pantai yang terbentuk saat air laut surut.

Pengambilan data garis pantai untuk pulau sendiri mengalami kesulitan karena keadaan pulau bagian selatan yang hanya tebing-tebing membuat tim kesulitan untuk melihat garis pantai. Hal ini terjadi karena bagian selatan pulau merupakan samudera yang memilki gelombang cukup tinggi, gelombang tersebut pecah oleh tebing yang menghiasi pulau sehingga garis pantai tidak dapat terlihat dengan jelas, begitupun dengan teluk. Tim hanya dapat menyusuri sebgaian dari teluk karena medan yang ditempuh sangat sulit, yaitu tebing-tebing curam dan gelombang yang besar. Perubahan garis pantai di pulau maupun teluk yang dipengaruhi oleh pasang surut harian termasuk cukup tinggi. Hal ini menandakan bahwa pasang tertinggi terjadi cukup jauh melewati batas darat dan air laut bertemu (Triatmodjo 2003).

SIMPULAN DAN SARAN

  • Simpulan

Pengamatan yang dilakukan di Teluk Kiluan Lampung ini menggunakan metode tracking dan marking dengan menggunakan GPS hand. Selain itu metode transek garis sepanjang 100 m juga diterapkan untuk pengambilan data ekosistem bentik. Hasil yang diperoleh adalah teluk Kiluan merupakan kawasan yang memiki keadaan alam yang masih asri atau baik, hal ini ditandai dengan masih beragamnya ekosistem bentik yang ditemui. Keasrian dari teluk Kiluan ini juga tidak terlepas dari peran masyarakat yang sangat menjaga ekosistem, selain itu rendahnya jumlah masyarakat di pulau juga menjadi factor dari masih asrinya alam teluk Kiluan. Sedikitnya jumlah masyarakat di pulau ini membuat sedikit pula infrastrukur yang ada. Infrastruktur Teluk Kiluan masih tergolong sangat sedikit, yaitu hanya terdapat bangunan penting berupa Puskesmas, SD, TK, dan SMP. Di pulau ini tidak terdapat bangunan pos polisi atau gedung pemerintahan lainnya, ini menandakan bahwa Teluk Kiluan memang berada jauh dari keriuhan suasana perkotaan bahkan pasar atau toko swalayan pun tidak ada. Perubahan garis pantai di pulau maupun teluk yang dipengaruhi oleh pasang surut harian termasuk cukup tinggi. Hal ini menandakan bahwa pasang tertinggi terjadi cukup jauh melewati batas darat dan air laut bertemu.

  • Saran

Penelitian mengenai ekosistem bentik harus didukung oleh citra satelit yang baik, agar sebelum gound check peneliti mengamati dahulu dengan menggunakan citra satelit yang memilki reolusi spasial yang bagus.

DAFTAR PUSTAKA

Blaschke T. 2010. Object Based Image Analysis For Remote Sensing. ISPRS J. Photogramm, 65(1):2-16.

Breiman, L. 2001. Random Forests. Mach Learn, 45(1):5-32.

Gachet R. Spot In Flight Commissioning: Inner Orientation of HRG and HRS Instruments. CNES/IGN. Dari http://www.isprs.org/hrs/PDF/96.pdf.

Pariwono JI. 1999. Kondisi Oseanografi Perairan Pesisir Lampung.Proyek Pesisir Publication. Jakarta [ID]

Triatmodjo B. 2003. Pelabuhan. Beta Ofset. Yogyakarta [ID]

Share/Bookmark