Jenis dan Distribusi Lumba-Lumba di Perairan Teluk Kiluan Lampung

Posted on Posted in Uncategorized

JENIS DAN DISTRIBUSI LUMBA-LUMBA DI PERAIRAN TELUK KILUAN LAMPUNG

Tri Nur Sujatmiko1, Aulia Rahmania Putri1

1Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Institut Pertanian Bogor

Email: ekspedisihimiteka@gmail.com

ABSTRAK

Teluk Kiluan merupakan sebuah cekungan teluk yang berada di Teluk Semangka, Kabupaten Tanggamus, Propinsi Lampung dan menjadi tempat bemigrasinya lumba-lumba. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis, tingkah laku, dan distribusi lumba-lumba yang berada di perairan Teluk Kiluan, Lampung. Penelitian ini berlangsung pada tanggal 31 Mei – 2 Juni 2015 dengan melakukan pengamatan di waktu pagi. Pengumpulan data dilakukan dengan metode jelajah untuk mencatat jumlah spesies dan melihat tingkah laku lumba-lumba yang berada di sepanjang jalur berjumlah 7 transek yang di desain sebelum dilaksanakannya pengamatan. Lumba-lumba yang ditemukan adalah jenis lumba-lumba hidung botol/Bottlenose dolphin (Tursiops truncatus) dan lumba-lumba moncong panjang/ Spinner dolphin (Stenella longirostris) dengan total jumlah 501 ekor. Lumba-lumba tersebut dijumpai pada transek 2, transek 4, transek 5, dan transek 7. Pergerakan lumba-lumba yang teramati pada pagi hari menunjukkan tingkah laku lumba-lumba yang sedang mencari makan dan memanfaatkan arus pasang surut. Lumba-lumba bergerak ke arah tenggara di pagi hari dan mulai bergerak ke arah Teluk Semangka pada siang hari. Distribusi lumba-lumba yang ditemukan berada di kedalaman 150 – 250 meter dengan pergerakan ke arah laut lepas.

Kata Kunci : distribusi, jenis, lumba-lumba, Teluk Kiluan, tingkah laku

ABSTRACT

Kiluan Bay is a bay basin located in Semangka Bay, Tanggamus, Lampung, and is a place where cetaceans migrate. The research aims to determine the species, behavior, and distribution of dolphins. The study was conducted on May 31 – June 2, 2015 in the morning. Data collected using roaming methods to obtain the species number and their behavior along the line in 7 transects designed before the observation. The observed dolphins are bottlenose dolphin (Tursiops truncatus) and long-snout dolphin / Spinner dolphin (Stenella longirostris) with a total number of 501 individuals. The dolphins were found in transect 2, 4, 5 and 7. The dolphins movement in the morning showed the behavior of foraging and utilizing the tidal current. They moved southeast in the morning and started to move to Semangka Bay in the afternoon. The distribution of the dolphins were found at the depth of 150-250 meters with movement towards the open sea.
Keywords : distribution, type, dolphin, Kiluan Bay, behavior

  1. PENDAHULUAN
    • Latar Belakang

Teluk Kiluan merupakan sebuah cekungan teluk yang berada di Teluk Semangka Kabupaten Tanggamus, Propinsi Lampung. Tepatnya berada pada bagian timur pesisir Teluk Semangka yang berada di selatan Pulau Sumatera dan berbatasan langsung dengan Selat Sunda. Memiliki luas wilayah mencapai 10 km² dan merupakan bagian dari Pekon Kiluan Negeri Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus. Secara geografis teluk ini terletak antara 05°45’54” LS – 05°48’00” LS dan 105°05’06” BT – 105°07’05” BT (Siahainenia 2008).

Teluk Kiluan memiliki kedalaman antara 5 – 400 mdpl dan merupakan perairan yang relatif tenang, memiliki iklim tropis humid yang dipengaruhi tiupan angin laut lembap dan angin musim dari Samudera Hindia. Jumlah penduduk teluk kiluan sebanyak 1.118 orang pada tahun 2010 dengan 414 kepala keluarga. Teluk Kiluan memiliki keragaman penduduk dari beberapa suku bangsa seperti Lampung, Sunda, Jawa, Bali, hingga Bugis. Penduduk Teluk Kiluan bermata pencaharian utama berladang dan bertani (Hudisaputra 2011).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Siahainenia (2008), Teluk Kiluan menjadi salah satu tempat bermigrasinya cetacean terutama lumba-lumba hidung botol/ Bottlenose dolphin (Tursiops truncatus) dan lumba-lumba paruh panjang/Spinner dolphin (Stenella longirostris). Saat ini seluruh jenis Cetacea berdasarkan IUCN termasuk dalam daftar Critically Endangered. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistem, serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, lumba-lumba merupakan mamalia laut yang dilindungi (Siahainenia dan Isnaniah 2013).

  • Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui jenis, tingkah laku, dan distribusi lumba-lumba yang berada di perairan Teluk Kiluan, Lampung.

  1. METODOLOGI
    • Waktu dan Tempat

Pengambilan data jenis dan distribusi lumba-lumba dilaksanakan pada tanggal 31 Mei – 2 Juni 2015 di wilayah perairan Teluk Kiluan dan Pulau Kiluan, Desa Kiluan Negeri, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Pengamatan dilakukan pada tujuh transek. Berikut merupakan peta wilayah pengambilan data tersebut (Gambar 1).
lumba2Gambar 1. Peta transek wilayah pengamatan lumba-lumba di perairan Teluk Kiluan, Lampung

2.2 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam pengamatan lumba-lumba di perairan Teluk Kiluan adalah GPS (Global Positioning Satelite), teropong binokuler, alat tulis, perahu / jukung, dan kamera dokumentasi.

2.3 Pengumpulan Data

Berikut adalah prosedur kerja yang dilakukan dalam pengamatan lumba-lumba di perairan Teluk Kiluan

flowGambar 2. Diagram alir pengamatan lumba-lumba

Metode yang digunakan untuk mengamati keberadaan lumba-lumba adalah dengan metode jelajah untuk mencatat jumlah spesies dan melihat tingkah laku lumba-lumba yang berada di sepanjang jalur berjumlah 7 transek yang di desain sebelum dilaksanakannya pengamatan. Pengamatan dimulai dari stasiun 1 sampai stasiun 7 selama 3 hari dari tanggal 31 Mei – 2 Juni 2015 dan diamati mulai pagi hari (Gambar 1). Saat pengamatan dilakukan kapal bergerak dengan kecepatan minimum 6 km/jam dan maksimum 14 km/jam. Pengamatan dilakukan pada pagi hari dimana kondisi perairan masih tenang dan lumba-lumba belum jauh dari pesisir. Selama pengamatan dicatat informasi umum, yaitu tanggal, jam, posisi geografis dan keadaan laut; informasi lumba-lumba, yaitu jenis / spesies dan jumlah individu; dan tingkah laku lumba-lumba, yang dijelaskan pada Tabel 1. Identifikasi mamalia laut mengikuti referensi dari FAO Species Identification Guide Marine Mammals of The World (Jefferson et al. 1993). Penentukan jumlah mamalia laut dengan tepat sangatlah sulit sehingga menggunakan metode estimasi yang tepat untuk melakukan perhitungan jumlah mamalia laut tersebut (Hammond et al. 2002).

Pengamatan terhadap lumba-lumba disekitar perairan Teluk Kiluan dilakukan secara langsung (visual sensus on dolphin) dari atas kapal nelayan. Jumlah lumba-lumba dihitung ketika terlihat dipermukaan, kemudian diamati selama 5 menit atau sampai jumlah individu dihitung menjadi konsisten, agar tidak melebih-lebihkan angka lumba-lumba (Gregory dan Rowden 2001). Ukuran kelompok lumba-lumba diestimasi nilai minimum dan maksimumnya. Pengamatan dilakukan dengan menghitung semua lumba-lumba yang terlihat, tanpa membedakan ukuran lumba-lumba yang terlihat (Notarbartolo-di-Sciara et al. 2009).

Tabel 1. Tingkah laku lumba-lumba di permukaan Carwadine (1995) dan Karczmarski et al. (2000)

No Tingkah Laku Deskripsi
1 Bow riding Gerakan lumba-lumba mengikuti gerakan kapal
2 Aerials Lumba-lumba melompat tinggi, salto, berbalik dan berputar di udara
3 Spy hopping Gerakan lumba-lumba memunculkan kepala dari air
4 Breaching Gerakan paus meloncat dan menjatuhkan badan ke arah belakang
5 Lobtailing Gerakan mengangkat fluks (ekor) ke luar permukaan air dan memukul-mukulkan ke permukaan air
6 Feeding Kegiatan yg dilakukan ketika mencari makan, ditandai adanya schooling ikan di dekat lumba-lumba
7 Avoidance Gerakan menghindari kapal
8 Travelling Gerakan ke arah tertentu, kemudian melakukan penyelaman secara bersama-sama, lalu muncul kembali ke permukaan air, dan mengejar ikan secara berkelompok

 

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Identifikasi Jenis Lumba-Lumba

Pengamatan lumba-lumba di perairan selama tiga hari di perairan Teluk Kiluan ditampilkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil pengamatan lumba-lumba di perairan Teluk Kiluan

No Parameter Hasil Pengamatan
1 Jumlah hari pengamatan 3 hari
2 Jumlah jam pengamatan 4 jam 43 menit
3 Total panjang jalur pengamatan 41, 328 km
4 Jumlah perjumpaan lumba-lumba 4 kali
5 Jumlah lumba-lumba 501 ekor
6 Spesies teridentifikasi Tursiops truncatus dan Stenella longirostris
7 Genus teridentifikasi Tursiops dan Stenella

Pengamatan yang dilakukan selama 3 hari dengan total waktu 4 jam 43 menit menghasilkan identifikasi lumba-lumba sejumlah dua jenis. Jenis yang teridentifikasi adalah lumba-lumba hidung botol/ Bottlenose dolphin (Tursiops truncatus) dan lumba-lumba paruh panjang/Spinner dolphin (Stenella longirostris). Penelitian yang dilakukan Siahainenia dan Isnaniah (2013) menunjukkan bahwa lumba-lumba yang teridentifikasi di perairan Teluk Kilaun adalah jenis Tursiops truncatus dan Stenella longirostris.

Bottlenose dolphin termasuk hewan yang tidak menyerang sehingga dapat dengan mudah dan aman untuk dinikmati atraksinya. Identifikasi Bottlenose dolphin ditandai melalui tubuhnya yang relatif pendek dengan moncong yang pendek. Sirip punggung tinggi dan berujung agak bengkok seperti sabit serta muncul dari pertengahan punggung. Warna bervariasi dari abu-abu terang hingga hitam di bagian punggung, memudar menjadi putih (kadang-kadang dengan rona merah muda) pada perut. Ukuran grup umumnya kurang dari 20 individu, tetapi kadang juga terlihat dalam bergerombol hingga ratusan ekor pada laut lepas dan berasosiasi dengan jenis cetacean lainnya (Jefferson et al. 1993). Menurut Shane et al. (1986) umumnya lumba-lumba ini ditemukan dalam grup kecil berjumlah 2-15 ekor.

Spinner dolphin (Stenella longirostris ) diidentifikasi dengan ciri-ciri sering melakukan gerakan aerials, memiliki paruh panjang dan ramping, sirip dorsal yang tegak, tubuh panjang dan ramping, dahi yang landai serta ekornya yang panjang dan lancip. Menurut Jefferson et al. (1993), Spinner dolphin memiliki 3 pola warna, antara lain abu-abu gelap, sisi abu-abu terang pada bagian samping, dan putih (abu-abu putih) pada bagian perut. Spinner dolphin adalah nama untuk kebiasaan yang dilakukan, yaitu melompat dari air dan berputar hingga 7 kali sebelum jatuh kembali ke air. Ukuran kawanan berkisar dari kurang dari 50 hingga ribuan. Biasanya berasosiasi dengan lumba-lumba jenis Pantropical Spotted dolphin (Stenella attenuata) yang umum di daerah timur Pasifik.

3.2 Tingkah Laku dan Distribusi Lumba-Lumba

Banyak peneliti setuju bahwa lumba-lumba adalah makhluk yang sangat sosial dan biasanya hidup dalam kelompok mulai dari 2 – 40 ekor, tetapi sering ditemukan lumba-lumba dalam jumlah besar. Dalam beberapa kasus, kelompok-kelompok berukuran besar dan berisi lebih dari satu spesies dan saling berinteraksi dengan baik. Spesies yang biasanya mengasosiasikan dalam kelompok multi-spesies adalah Spinner dolphin dan Spotted dolphin. Sebagai kebiasaan makan, mereka dapat melakukan perjalanan bersama-sama tanpa bersaing untuk makanan. Berdasarkan hasil pengamatan, kelompok lumba-lumba di perairan Teluk Kiluan membentuk kelompok multi-spesies yaitu antara Tursiops truncatus dan Stenella longirostris. Tingkah laku yang dilakukan lumba-lumba di perairan Teluk Kiluan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Tingkah laku lumba-lumba yang teramati di perairan Teluk Kiluan

Transek Jenis Tingkah Laku
Transek 2 Tursiops truncatus Travelling
Transek 4 Tursiops truncatus Travelling
Transek 5 Stenella longirostris travelling, feeding, aerials, bow riding
Transek 5 Tursiops truncatus travelling, feeding, bow riding
Transek 7 Stenella longirostris avoidance, feeding

Saat pengamatan lumba-lumba, perilaku yang teramati adalah travelling, bow riding, aerials, dan feeding (Tabel 3). Tingkah-laku lumba-lumba pada transek 2 (pengamatan hari pertama) adalah travelling yaitu lumba-lumba bergerak ke arah Teluk Semangka, sedangkan pada transek 4 (pengamatan hari kedua) tingkah laku travelling terlihat dan pergerakan lumba-lumba ke arah tenggara. Tingkah laku pada transek 5, yaitu pada lokasi yang sama terlihat dua jenis lumba-lumba yang sedang melakukan travelling dan sedang feeding. Hal ini terlihat dari kumpulan lumba-lumba yang berenang pada lokasi yang sama dan berenang mengelilingi lokasi untuk menangkap mangsa. Selain itu lumba-lumba melakukan gerakan aerials yang terlihat ketika lumba-lumba melompat ke udara dan ada sebagian yang melakukan bow riding, yaitu berenang di sebelah kapal. Pengamatan pada transek 7 (hari ketiga) menunjukkan pergerakan lumba-lumba yang menghindari kapal (avoidance) dan terlihat lumba-lumba sedang mencari makan. Pengamatan pada transek tersebut dilakukan setelah hujan, sehingga kondisi perairan bergelombang dan lumba-lumba berenang kearah laut lepas.

Ketika waktu pengamatan, lumba-lumba akan berenang ke arah tenggara dari Teluk Semangka atau menuju ke arah laut lepas dan dalam kondisi membentuk kumpulan (pods). Diduga kebiasaan berenang pada waktu pagi hari terkait dengan lumba-lumba sedang mencari makan (Yusron 2012). Berdasarkan penelitian Gregory dan Rowden (2011) di perairan Teluk Cardigan bahwa pergerakan lumba-lumba hidung botol (Tursiops truncatus) memanfaatkan aliran pasang surut untuk menghemat energi. Lumba-lumba bergerak mengikuti pergerakan mangsanya, karena banyak spesies ikan menunjukkan kecenderungan untuk mengikuti arus pasang surut untuk mencari makanan. Diduga bahwa pasang surut air laut digunakan oleh lumba-lumba untuk membantu mencari makanan, sehingga lumba-lumba lebih efisien dalam mengeluarkan energi saat mencari makan dan bereang dengan memanfaatkan arus tersebut.

Pengamatan dilakukan pada akhir bulan Mei dan awal Juni yang diindikasikan sebagai musim timur, sehingga lumba-lumba mudah untuk dijumpai pada bulan tersebut. Menurut penelitian Astuti (2012) di Pulau Karang Congkak bahwa ketika musim timur kondisi angin kecil dan gelombang yang tidak tinggi sehingga banyak lumba-lumba yang muncul ke permukaan.

Cuaca sangat menentukan dalam pengamatan lumba-lumba di laut. Perubahan cuaca akan mempengaruhi kondisi di laut. Angin misalnya sangat menentukan terjadinya gelombang dan arus di permukaan laut. Ketika pengamatan, kondisi perairan yang disesuaikan dengan skala Beufort. Kondisi permukaan perairan yang tepat untuk melihat kemunculan lumba-lumba adalah pada skala Beufort 1 (bagus) dan 2 (lumayan) (Astuti 2012). Kondisi perairan ketika pengamatan menunjukkan skala Beufort 2 pada hari pertama dan kedua, namun pada hari ketiga menunjukkan skala Beufirt 4 karena pengamatan dilakukan setelah terjadinya hujan. Berdasarkan kondisi tersebut didapatkan hasil bahwa pengamatan hari ketiga susah untuk melihat lumba-lumba dan cenderung jauh dari Teluk Kiluan.

Kemunculan lumba-lumba yang diamati di perairan Teluk Kiluan selama pengamatan menunjukkan kondisi perairan yang sedang mengalami kondisi surut dan sedang bergerak kearah tenggara untuk mencari makan. Berdasarkan penelitian Astuti (2012) di Pulau Karang Congkak bahwa lumba-lumba jenis Delphinus delphis dan Tursiops truncatus teramati pada kondisi perairan sedang surut. Lokasi kemunculan lumba-lumba hidung botol saat surut berada di daerah laut terbuka (selat antar pulau) dan saat pasang lumba-lumba ditemukan dekat dengan daerah tubir terumbu karang. Ketika air surut, arus air surut akan membawa makanan bagi biota laut yang hidup di tengah laut. Arus tersebut akan membawa fitoplankton, zooplankton, dan ikan-ikan kecil ke tengah laut, sehingga terjadi supply makanan di tengah laut, sedangkan pada saat air pasang arus laut akan kembali membawa biota yang menjadi supply makanan ke daerah perairan dangkal. Pasang surut air laut digunakan oleh lumba-lumba untuk membantu mencari makanan, sehingga lumba-lumba lebih efisien dalam mengeluarkan energi saat mencari makan dan berenang dengan memanfaatkan arus air tersebut.

petaaaGambar 3. Peta lokasi penemuan lumba-lumba di perairan Teluk Kiluan, Lampung

Pergerakan lumba-lumba selama pengamatan menunjukkan kedalaman perairan 150 – 250 meter dan berada di sekitar daratan. Menurut penelitian Siahainenia dan Isnaniah (2013), bahwa pergerakan lumba-lumba di perairan Teluk Kiluan berada pada kisaran kedalaman antara 100 – 800 meter menjauhi pantai dan banyak ditemukan pada kedalaman 600 meter. Diduga keberadaan lumba-lumba yang menjauhi pesisir pantai karena kondisi perairan yang berhadapan dengan perairan samudera yang terbuka dan curam. Berdasarkan letaknya kondisi perairan Teluk Kiluan lebih dipengaruhi oleh perairan Samudera Hindia. Menurut Pariwono (1999), kedalaman rata-rata perairan di Teluk Semangka adalah sekitar 60 meter. Akan tetapi pada jarak sekitar 15 km dari kepala teluk, kedalaman sudah mencapai 200 meter. Kedalaman perairan makin besar semakin ke arah selatan, dimana kedalaman hingga 360 meter yang ditemui di sebelah timur laut Pulau Tabuan, sehinggga kondisi ini mencirikan bahwa perairan Teluk Semangka (termasuk Teluk Kiluan) lebih dipengaruhi oleh perairan Samudera Hindia.

  1. SIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama tiga hari di perairan Teluk Kiluan bahwa jenis lumba-lumba yang ditemukan terdiri dari lumba-lumba hidung botol/ Bottlenose dolphin (Tursiops truncatus) dan lumba-lumba paruh panjang/Spinner dolphin (Stenella longirostris) dengan total jumlah 501 ekor. Lumba-lumba yang dijumpai terdapat di transek 2, transek 4, transek 5, dan transek 7. Pergerakan lumba-lumba yang teramati pada pagi hari menunjukkan tingkah laku lumba-lumba sedang mencari makan dan memanfaatkan arus pasang surut. Pergerakan lumba-lumba ke arah tenggara ketika pagi hari dan mulai bergerak ke arah Teluk Semangka pada siang hari. Distribusi lumba-lumba yang ditemukan berada di kedalaman 150 – 250 meter dengan pergerakan ke arah laut lepas.

DAFTAR PUSTAKA

Ali S. 2006. Pola distribusi lumba-lumba di Pantai Lovina Buleleng Bali. [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Astuti MD. 2012. Keberadaan lumba-lumba dan hubungannya dengan kondisi habitat di perairan Pulau Karang Congkak, Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Carwadine M. 1995. Whales Dolphins and Porpoises (Eyewitness Handbooks). New York (US) : Dorling Kindersley Ltd.

Gregory PR, Rowden AA. 2011. Behaviour pattern of bottlenose dolphins (Tursiops truncates) relative to tidal state, time-of-day, and boat traffic in Cardigan Bay, West Wales. Aquatic Mammals. 27(2) : 105 – 113.

Hammond PS, Berggren P. Benke H, Borchers FL, Collet A, Heide-Jorgensen MP, Heimlich S, Hiby AR, Leopold MF, Oien N. 2002. Abundance of harbour porpoise and other cetaceans in the North Sea and adjacent waters. Journal of Applied Ecology. 39 (2) : 361 – 376. doi: 10.1046/j.1365-2664.2002.00713.x.

Hudisaputra AK. 2011. Pengelolaan Wilayah Pesisir Teluk Kiluan, Kabupaten Tanggamus melalui Pengembangan Ekowisata [catatan penelitian]. Bandung (ID) : Universitas Padjajaran.

Jefferson TA, Leatherwood S, Webber MA. 1993. FAO Species Identification Guide : Marine Mammals of The World. Roma (IT) : Food Agriculture Organization.

Karczmarski L, Cockcroft VG, McLachlan A. 2000. Habitat use and preferences of Indo-Pacific Humpback Dolphins Sousa chinensis in Algoa Bay, South Africa. Marine Mammal Science . 16(1) : 65-79. doi : 10.1111/j.1748-7692.2000.tb00904.x

Notarbartolo-di-Sciara G, Hanafy MH, Fouda MM, Afifi A, Costa M. 2009. Spinner dolphin (Stenella longirostris) resting habitat in Samadai Reef (Egypt, Red Sea) protected through tourism management. Journal of the Marine Biological Association of the United Kingdom. 89(1) : 211-216. doi:10.1017/S0025315408002221.

Pariwono JI. 1999. Kondisi Oseanografi Perairan Pesisir Lampung. Proyek Pesisir Publish. Technical Report Coastal Resources Center, University of Rhode Island, Jakarta Indonesia. 28 hal.

Shane SH, Wells RS, Wursig B. 1986. Ecology, behavior and social organization of the bottlenose dolphin : a review. Marine Mammal Science. 2(1):34-63. doi : 10.1111/j.1748-7692.1986.tb00026.x.

Siahainenia SR. 2008. Kajian Tingkah Laku, Distribusi dan Karakter Suara Lumba-lumba di Perairan Pantai Lovina Bali dan Teluk Kiluan Lampung. [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Siahainenia SR, Isnaniah. 2013. Jenis dan distribusi lumba-lumba di perairan Teluk Kiluan Lampung. Jurnal Ilmu Perairan. 8 (1) : 29-35.

Yusron E. 2012. Biodiversitas jenis cetacean di perairan Lamalera, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ilmu Kelautan. 17 (2) : 59-62.

Share/Bookmark