Pengukuran Parameter Fisik Oseanografi di Teluk Kiluan Lampung

Posted on Posted in Uncategorized

Pengukuran Parameter Fisik Oseanografi di Teluk Kiluan, Lampung

Lukman Hakim1,Syifa Nur Afif Giarsyah1, Karizma Fahlevy1

1Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Institut Pertanian Bogor

Email: ekspedisihimiteka@gmail.com

ABSTRAK

Teluk Kiluan merupakan bagian dari Teluk Semangka di selatan Sumatra dengan luas 10 km². Pengambilan data dilakukan untuk menganalisis parameter fisik perairan sehingga dapat dijadikan sebagai sumber informasi terbaru. Pengambilan data meliputi data suhu, salinitas dan densitas menggunakan CTD, data sedimen menggunakan Ekman grab, data kekeruhan menggunakan turbiditymeter, data pasang surut menggunakan motiwali dan data arus menggunakan floating droudge. Hasil pengukuran menunjukan suhu perairan berkisar antara 28 -30°C, salinitas 32.50 33.60 psu, tinggi muka laut rata-rata 200 cm, arah arus dipengaruhi angin permukaan, sedimen dasar perairan didominasi oleh pasir halus, kekeruhan tiap stasiun berbeda bergantung pada kedalaman dan densitas berkisar 1020 sampai 1021 kg/m³dengan kecerahan perairan yang masih baik dengan persentase rata-rata 91.65%.

Kata kunci: Kiluan, oseanografi, parameter.

ABSTRACT

Kiluan Bay is part of Semangka Bay in the South Sumatra with 10 km² area. Data retrieval is performed to analyse the physical parameters of the waters to serve as the source of the latest information. Data retrieval include of temperature, salinity and density using the CTD, sediment data using Ekman grab, turbidity data using turbiditymeter, tidal data using motiwali and water current data using floating droudge. The results of measurements showed a temperature of waters ranging between 28-30 ° C, salinity 32.50 33.60 psu,mean sea level 200 cm, the direction of the currents influenced the wind surface, basic sediments waters dominated by fine sand, turbidity of each station is different depending on the depth and density ranges from 1020 to 1021 kg/m³.

Keywords: Kiluan, oceanography, parameter.

 

  1. PENDAHULUAN
    • Latar Belakang

Teluk Kiluan merupakan cekungan teluk yang berada di Teluk Semangka Kabupaten Tanggamus Propinsi Lampung. Berada di bagian timur pesisir Teluk Semangka yaitu di selatan Pulau Sumatera dan berbatasan langsung dengan Selat Sunda, memiliki luas wilayah teluk mencapai 10 km2. Wilayah Teluk Kiluan merupakan bagian dari Pekon Kiluan Negeri Kecamatan Kelumbayan Kabupaten Tanggamus Propinsi Lampung. Secara Geografis Teluk Kiluan terletak antara 050 45’54”-050 48’00” LS dan 105° 05’06”-105° 07’05” BT.

Pengambilan data oseanografi meliputi data sedimen, kekeruhan, arus, pasang surut, turbiditas, suhu dan salinitas perairan. Pengukuran parameter tersebut diperlukan untuk mengetahui kondisi fisik Teluk Kiluan yang menjadi bagian dari Teluk Semangka.

  • Tujuan

Tujuan dari pengukuran parameter fisik oseanografi adalah untuk analisis data sehingga menjadi informasi terbaru mengenai kondisi fisik Teluk Kiluan.

  1. METODOLOGI
    • Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam pengambilan data parameter oseanografi adalah GPSMap 585 Fish Finder, CTD (Conductivity, Themperature, Density), Ocean Data View 4.00, Floating Droadge, Turbidymeter, Moritide, Stopwatch, Hand GPS, Microsoft Excel, Sedimen, Ekman Grab, Plastik sample, Cool box, Neraca analitik, Shaker, saringan bertingkat, ATK, dan kamera.

  • Waktu dan Tempat

Pengambilan data parameter oseanografi dilaksanakan tanggal 30 Mei – 02 Juni 2015 yang bertempat di Teluk Kiluan,Lampung dan sekitar Pulau Kelapa. Berikut merupakan peta wilayah pengamatan

petaaaaaabbbbbGambar 1. Peta Lokasi Pengambilan Data di Teluk Kiluan, Lampung

  • Metode Pengambilan Data
    • Suhu,salinitas, dan densitas

alirGambar 2. Diagram alir pengambilan data suhu,salinitas, dan densitas.

Tahap persiapan dilakukan di darat dan di atas kapal, alat yang harus disipakan diantaranya adalah GPS Map Fish Finder dan CTD dalam keadaan siap untuk diturunkan.Setelah sampai di stasiun pengamatan, turunkan CTD secara perlahan hingga mendekati dasar perairan. CTD akan merekam data secara otomatis perkedalaman. Setelah pengambilan data selesai, transfer data dari CTD ke laptop dan lakukan pengolahan data menggunakan software Ocean Data View 4.

  • Arus

alir

Gambar 3. Diagram alir pengambilan data Arus

Prinsip kerja floating droadge adalah mengukur kecepatan arus secara manual dengan bantuan stopwatch.Tali sepanjang kurang lebih 1 meter yang diikatkan pada floating droadge kemudian alat tersebut dijatuhkan ke laut, saat alat tersebut dijatuhkan, stopwatch mulai dihidupkan. Alat tersebut akan terbawa arus dan pada saat tali menegang, matikan stopwatch sehingga didapatkan waktu serta jarak yang dapat digunakan untuk menentukan kecepatan arus.Pengukuran arah dan kecepatan arus dilakukan sebanyak tiga kali ulangan pada tiap stasiun.

  • Kecerahan dan kekeruhan

2.3.3.1 Kekeruhan

 alir

Gambar 4.Diagram alir pengambilan data kekeruhan

Turbiditymeter adalah instrumen yang dapat menentukan besarnya nilai suatu kekeruhan pada perairan. Pengambilan data kekeruhan dilakukan dengan memasukkan turbiditymeter pada tiga kedalaman yaitu 5, 10, dan 15 meter di setiap stasiun penelitian.Secara otomatis alat ini akan membaca nilai kekeruhan suatu perairan. Tulis nilai yang dikeluarkan oleh turbidimeter yang kemdian akan di olah di Microsoft excel guna melihat rata-rata nilai kekeruhan perairan tersebut. Kekeruhan dinyatakan dalam satuan NTU (nephelometric turbidity units). Semakin banyak padatan tersuspensi dalam air, air terlihat semakin keruh dan semakin tinggi pula nilai NTU.

2.3.3.2 Kecerahan

alir

Gambar 5. Diagram alir pengambilan data kecerahan

Dalam pengambilan data kecerahan yang harus diperhatikan yaitu kesiapan alat,warna dari secchi disk haruslah sangat terlihat karena metode yang digunakan yaitu visualisasi. Pada saat jarak antara permukaan air sampai hilangnya warna pada secchi disktulis sebagai D1 dan jarak antara dasar perairan sampai munculnya warna pada secchi disk sebagai D2. Input data kedalamMicrosoft exceldan kecerahan perairan didapat dari perhitungan hasil rata-rata D1,D2.

  • Pasang Surut

alirGambar 6. Diagram alir pengambilan data pasang surut

Tahap persiapan alat dilakukan di daratan yang bertujuan untuk mengecek kondisi alat dan baterai sehingga dapat berfungsi dengan baik juga dilakukan pengaturan pengambiilan data menggunakan Moritide dalam hal ini dilakukan setiap 15 sekali.Pengoperasian Moritide dilakukan di daerah intertidal zonedimana daerah tersebut dipengaruhi oleh pasang surut air laut.Alat dibiarkan selama 4 hari, yang bertujuan merekam data pasang surut selama 4 hari non-stop.Setelah pemasangan selesai tidak lupa untuk menandai posisi Moritide dengan Hand GPS untuk mempermudah pengamatan. Setelah data terekam maka data di transfer ke laptop yang kemudian di olah pada Microsoft Excel sehingga diperoleh tipe pasang surut perairan tersebut.

  • Sedimen

alirGambar 7. Diagram alir pengambilan data sedimen

Tahap persiapan fraksinasi sedimen dilakukan di darat dan di atas kapal. Alat yang harus dipersiapkan diantaranya adalah Ekman grab, plastik sample, dan cool box. Setelah sampai di stasiun pengambilan sample turunkan Ekman grab sampai menyentuh dasar dan merauk sedimen dasar. Tarik Ekman grab, ambil sedimen dan sisihkan dalam plastik sample kemudian simpan dalam cool box. Analisis sample dilakukan di Laboratorium alat Oseanografi menggunakan Shaker dan saringan bertingkat. Sebelumnya sample sedimen dijemur terlebih dahulu hingga kering. Timbang sedimen sebanyak 100 gram kemudian saring dan kocok menggunakan shaker hingga sedimen terfraksinasi berdasarkan ukurannya.Timbang sedimen yang tersaring pada tiap tingkatan kemudian hitung sediment loss-nya.

2.4 Metode Analisis Data

2.4.1. Metode Analisis Suhu,

   Salinitas, dan Densitas.

Dalam penentuan suhu, salinitas, dan densitas menggunakan alat bantu CTD (Conductivity Temperature Density) dan perangkat lunak ODV (Ocean Data View) dimana data temperature,salinitas dan kedalaman dalam format ASCII. Output dari pengolahan dengan ODV berupa profil sebaran vertikal (berupa grafik menegak) dan bagian vertikal (irisan melintang) Dengan memplotkan antara parameter terhadap kedalaman perairan. (Sidabutar 2014).

2.4.2. Metode Analisis Kekeruhan

Perairan

Untuk mendapatkan nilai kekeruhan suatu perairan dilakukan pengukuran mengunakan alat turbidity meteryang mana pada dasarnya adalah pengukuran intensitas cahaya yang ditranmisikan sebagai fungsi dari konsentrasi fase terdispersi, bilamana cahaya dilewatkan melalui suspensi maka sebagian dari energi radiasi yang jatuh dihamburkan dengan penyerapan, pemantulan, dan sisanya akan ditranmisikan (Khopkar, 2003).

   2.4.3 Metode Analisis Kecerahan

Perairan

Alat yang digunakan untuk mengukur kecerahan adalah secchi disk,rumus yang digunakan adalah sebagai berikut menurut (Kurniawan 2013)

Kecerahan = (D1 + D2 / 2Z) x 100% ……(1)

Keterangan :

D1 = jarak antara permukaan air sampai hilangnya warna hitam putih pada secchi disk (m).

D2 = jarak antara dasar perairan sampai munculnya warna hitam putih pada secchi disk(m).

Z = kedalaman perairan, yaitu saat secchi disk menyentuh dasar perairan(m).

   2.4.4 Metode Analisis Arus

Pengamatan arus dilakukan menggunakan alat floating drogue dengan metode langrangian.Indikator lagrangian yang paling sederhana adalah obyek yang mengambang di air yang dibawa oleh arus laut dengan minimal bagian permukaan terkena angin, atau berada di bawah permukaan air. Metode inidigunakan untuk menentukan arus permukaan dan dilakukan dengan memperhitungkan jalur yang dilalui oleh setiap partikel fluida yang dinyatakan sebagai fungsi dari waktu sebagai acuan penentuan arah dan laju suatu fluida (Poerbandono dan Djunasjah 2005).

2.4.5. Metode Analisis Pasang Surut

Dalam pengukuran pasang surut di teluk Kiluan, alat yang digunakan yaitu MOTIWALI.

Kemampuan tambahan yang dimiliki MOTIWALI berupa transmisi data menggunakan GSM atau frekuensi radio dan dilengkapi dengan sistem alarm (Iqbal dan Jaya, 2011). Alat ini dipasang di daerah intertidal (daerah yang dipengaruhi pasang surut) dalam hal ini berada di Barat pulau Kiluan. Alat ini akan merekam data pasang surut setiap 15 menit dalam 5 hari.

2.4.6. Metode Analisis Sediment Loss

Dalam penentuan sediment lossini menggunakan alat shaker dengan metode sievingdimana sampel sedimen yang telah kering akan dtimbang dan dimasukan kedalam shakeryang kemudian di ayak sehingga fraksi sedimen akan didapat berdasarkan ukuran dari saringan shaker.Adapun rumus untuk menentukan sediment loss adalah

Persen berat= berat fraksi i / berat total sampel x 100%…(2)

berat fraksi i = berat tiap-tiap fraksi ukuran butir (g)

Sampel sedimen yang tertinggal pada setiap ukuransaringan ditimbang masing-masing berat fraksinya sehingga diperoleh distribusi berat fraksi sedimenberdasarkan rentang ukuran kerapatan jaring saringan (Sheppard, 1954; Poerbandono dan Djunasjah 2005)

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN
    • Salinitas, Suhu, dan Densitas

Kedalaman Teluk Kiluan bagian dalam berkisar antara 10 sampai 20 meter sedangkan bagian luar hingga ujung teluk kedalamannya mencapai 50 sampai 60 meter. Berikut ini adalah sebaran menegak dan melintang salinitas di Teluk Kiluan.

salin melintang salinitas

Gambar 8. Sebaran menegak (kanan) dan melintang (kiri) salinitas di Teluk Kiluan

Berdasarkan data yang diperoleh menggunakan CTD, semakin dalam perairan maka salinitas akan semakin tinggi karena secara umum distribusi salinitas dilapisan tercampur permukaan atau Mixed layer menunjukkan nilai yang relatif lebih rendah dari pada di lapisan dalam (Nurhayati, 2006). Nilai salinitas di perairan teluk Kiluan yang berkisar antara 32.8 sampai 33.3 PSU.Salinitas relatif homogen hingga kedalaman 20 meter kemudian mengalami peningkatan sampai ke dasar perairan namun peningkatan salinitas tidak terlalu signifikan karena kondisi perairan yang dangkal. Rentang salinitas yang diperoleh pada pengamatan bulan Juni 2015 ini sesuai dengan Pariwono (1999) yang mengatakan bahwa salinitas permukaan di perairan Sumatra Barat berkisar antara 32.50 – 33.60 dimana salinitas minimum ditemui pada bulan Januari dan nilai salinitas maksimum terjadi pada bulan Agustus.

suhu melintang suhu

Gambar 9. Sebaran menegak (kanan) dan melintang (kiri) suhu di Teluk Kiluan

Berdasarkan data yang diperoleh menggunakan CTD, semakin dalam perairan maka suhunya akan semakin rendah. Suhu di perairan Teluk Kiluan berkisar antara 28.3 °C sampai 30.2 °C. Perbedaan antara suhu permukaan dan kolom perairan ini disebabkan oleh perbedaan intensitas cahaya matahari yang menembus perairan, semakin dalam suatu perairan cahaya yang diterimanya akan semakin sedikit dan mengakibatkan penurunan suhu. Pariwono (1999) menyatakan suhu rata-rata bulanan permukaan laut di barat Sumatera relatif stabil sepanjang tahun, berkisar antara 28 °C sampai 29 °C, dengan suhu maksimum ditemui pada bulan Mei dan suhu minimum ditemui pada bulan Oktober . Selain intesitas cahaya suhu perairan juga dipengaruhi oleh curah hujan (presipitation), aliran sungai (flux) dan pola sirkulasi arus (Robert 2005 dalam Hadikusumah 2008).

densitas melintang densitas

Gambar 10. Sebaran melintang (Kiri) dan menegak (kanan) densitas di Teluk Kiluan

Hutabarat (2006) mengatakan bahwa penyebaran densitas disebabkan karena adanya perbedaan suhu dan salinitas. Nilai densitas semakin besar apabila perairan tersebut semakin dalam seperti yang dijelaskan pada sebaran menegak gambar 12.

Densitas merupakan salah satu parameter penting saat mempelajari dinamika laut. Teluk Kiluan memiliki kisaran densitas sebesar 996.008-1021.207 Kg/m3 dari 17 stasiun penelitian.

  • Arus

Arus laut adalah pergerakan massa air laut secara vertikal maupun horizontal dari satu lokasi ke lokasi lain untuk mencapai kesetimbangan dan terjadi secara kontinu.

Gerakan massa air laut tersebut timbul akibat pengaruh dari resultan gaya-gaya yang bekerja dan faktor berdasarkan gaya-gaya yang mempengaruhinya (Brown et al 1989).

Pengukuran arus dilakukan sebanyak 17 stasiun penelitian. Berdasarkan pengamatan, kecepatan arus yang diperoleh dari tujuh belas stasiun penelitian di perairan Teluk Kiluan berkisar 0,05 m/s sampai 0,36 m/s. Nilai kecepatan terkecil terdapat pada stasiun 16 yaitu 0,05 m/s dengan arah 124,67° yaitu mengarah ke tenggara dan terbesar pada stasiun 2 yaitu 0,36 m/s dengan arah 43.33° yaitu mengarah ke timur laut. Berdasarkan pengamatan di lapang, stasiun 2 merupakan daerah yang dekat dengan teluk. Menurut rahmania (2001) daerah yang dekat dengan teluk memiliki arus yang cukup kuat dikarenakan adanya pengaruh arus aliran sungai utama yang bermuara di sekitar daerah tersebut, yang mana debit alirannya sekitar 0,48 m/detik.

  • Kekeruhan dan Kecerahan

Kekeruhan pada suatu perairan memiliki hubungan erat dengan kadar zat tersuspensi seperti pasir halus, liat dan lumpur alami yang merupakan bahan-bahan anorganik atau dapat pula berupa bahan-bahan organik. Menurut Tantowi (2002) dalam Bariguna (2008) meskipun kekeruhan disebabkan oleh adanya zat tersuspensi dalam air, kekeruhan tidak selalu sebanding dengan kadar zat yang tersuspensi dikarenakan zat-zat tersuspensi yang ada dalam air terdiri dari berbagai macam zat yang bentuk dan berat jenis yang berbeda-beda.

Pengamatan kekeruhan perairan Teluk Kiluan dilakukan sebanyak 17 stasiun penelitian. Berdasarkan hasil yang terdapat pada tabel 7 (lampiran), diketahui bahwa perairan Teluk Kiluan memiliki nilai kekeruhan tertinggi di kedalaman 5 dan 10 meter pada stasiun 3 sebesar 9,5 dan 9 NTU , kedalaman 15 meter pada stasiun 1 dengan nilai 6,7 NTU. Stasiun 6 hanya memiliki nilai kekeruhan di kedalaman 5 meter yaitu 1,6 NTU, hal tersebut dikarenakan stasiun penelitian termasuk perairan dangkal. Menurut Kepmen LH No.51 Tahun 2004 menyatakan baku mutu kekeruhan untuk air laut adalah <5 NTU, sehingga ada beberapa stasiun yang dapat dikategorikan buruk. Stasiun satu sampai lima merupakan daerah yang dekat dengan teluk, dimana daerah tersebut masih dipengaruhi oleh masukan berupa padatan tersuspensi dari aliran sungai yang bermuara yang memberikan.

Kecerahan perairan adalah suatu kondisi yang menunjukkan kemampuancahaya untuk menembus lapisan air pada kedalaman tertentu (Sari 2012).

Menurut Fardiaz (1992), padatan tersuspensi akan mengurangi penetrasicahaya ke dalam air.Padatan tersuspensi mempengaruhi kekeruhan dan kecerahan air.

Dari hasil yang didapat pada tabel 8 (lampiran), diketahui bahwa nilai kecerahan dari 17 stasiun hampir seluruhnya diatas 90%. Rata-rata nilai kekeruhan dari ke 15 stasiun yang bias dilakukan pengukuran kecerahan menggunakan secchi disk mencapai 91.65% dengan nilai kecerahan 1.5 m – 13m. Menurut Kurniawan (2013) nilai kecerahan yang diukur dengan menggunakansecchi disk memiliki nilai rata-rata 90 % artinya kecerahan perairan masih sesuai dengan baku mutu dan prairan masih termasuk kedalam perairan yang masih baik. Dan didukung oleh Effendi (2003) Dari pengamatan di lapangan kecerahan 5 – 16,5 m, hal ini menunjukkan bahwa intensitas matahari yang masuk ke dalam perairan cukup tinggi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa perairan memiliki kandungan bahan organik terlarut yang rendah. Dengan substrat dasar perairan yang hampir semua merupakan pasir berkarang,perairan ini merupakan habitat yang sangat baik untuk pertumbuhan organism laut.

  • Pasang Surut

Pemasangan Moritide di lakukan di bagian barat pulau Kiluan yang mana daerah tersebut dipengaruhi masukan air dari teluk Kiluan dan teluk Lampung sehingga memungkinkan untuk dilakukan pengambilan data psang surut. Berikut adalah grafik pasang surut teluk Kiluan selama 4 hari (30 Mei – 02 Juni 2015)  pasutGambar 11. Grafik Pasang Surut teluk Kiluan

Berdasarkan data Moritide,yang kemudian di olah di Microsoft excel, nilai MSL (Mean Sea Level) pasang surut Teluk Kiluan sebesar 200 cm sedangkan nilai HW (Highest Water) sebesar 370 cm dan nilai LW (Lowest Water) sebesar 160 cm. Nilai MSL adalah muka air rerata antara muka air rerata antara muka air tinggi rerata dan muka air rendah rerata. Elevasi ini digunakan sebagai referensi untuk elevasi dataran.MSL juga bisa digunakan sebagai acauan untuk penentuan tipe pasang surut pada grafik hasil olahan.Jika di lihat pada grafik dimana setiap harinya rata-rata terdapat 1-2 kali pasang dan 1 kali surut.Pasang surut di Teluk Kiluan termasuk kedalam tipe Pasang surut campuran cenderung ganda.Jenis pasang surut ini memiliki kesamaan dengan Teluk Semangka dan juga di Selat Sunda,karena Teluk Kiluan ini berada di sekitar daerah Teluk Semangka dan langsung berbatasan dengan Selat Sunda.

Tabel 1. Amplitudo Pasut Utama di Perairan Lampung, Dishiros (1997)

Lokasi Stasiun O1 K1 M2 S2 Nilai F
TS Teluk Semangka 10 22 34 15 0.65
TS Kota Agung 9 14 34 15 0.47
SS Selat Sunda 4 11 23 12 0.43
SS Pulau Sebuku 5 12 29 16 0.38
Keterangan
TS Teluk Semangka Nilai F 0.25 – 1.50 Pasut bertipe campuran dengan ganda yang menonjol
SS Selat Sunda

Tipe pasut ini tergantung pada kondisi perubahan kedalaman perairan atau geomorfologi pantai setempat. Di perairan sebelah barat dan barat daya Lampung, tipe pasut yang ditemui akanmirip dengan pasut Samudera Hindia, yaitu tipe pasut campuran dengan dominasi pasut ganda (Pariwono 1999).

  • Sedimen

Wentworth (1992) membagi sedimen kedalam beberapa kelompok berdasarkan ukurannya, berikut ini adalah klasifikasi Wentworth yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan jenis sedimen dasar di perairan Teluk Kiluan

wentworthGambar 12.Klasifikasi ukuran sedimen Wentworth (1992)

Pengambilan sample sedimen dilakukan di empat stasiun, masing-masing sedimen diambil sebanyak 100 gram untuk dianalisis.

Sediment loss atau sedimen yang hilang selama proses pengayakan dan perhitungan tidak boleh lebih dari 2% .Sedimen di setiap stasiun memiliki karakteristik yang berbeda, warna serta ukuran yang berbeda di setiap stasiun menunjukan bahwa substrat perairan bervariasi.Tabel dibawah ini merupakan hasil dari pengklasifikasian sample sedimen.

sedimenGambar 13. Sample sedimen di stasiun 1 sampai stasiun 4

Tabel 2. Klasifikasi sedimen di stasiun 1

Aperature (mm) Berat (gram) Persentase Keterangan
0.5 4 4% Pasir kasar
0.25 66.7 66.7% Pasir sedang
0.125 27.45 27.45% Pasir halus
0.063 1.5 1.5% Pasir sangat halus
<0.063 0.1 0.1% Lanau
Total 99.75 99.75% Sedimentloss 0.25%

Substrat stasiun 1 merupakan pasir putih yang berasal dari pecahan rubble, berwarna putih, memiliki tekstur yang cukup halus dan didominasi oleh medium sand atau pasir sedang berdiameter 0.25 mm sebanyak 66.7%.

Tabel 3. Klasifikasi sedimen di stasiun 2

Aperature (mm) Berat (gram) Persentase Keterangan
2 2.55 2.55% Kerikil
1 14.2 14.2% Pasir sangat kasar
0.5 22.2 22.2% Pasir kasar
0.25 25.9 25.9% Pasir sedang
0.125 27.7 27.7% Pasir halus
0.063 5.8 5.8% Pasir sangat halus
<0.063 0.5 0.5% Lanau
Total 98.85 98.85% Sediment loss 1.15%

Sedimen di stasiun 2 berwarna coklat, memiliki tekstur yang halus dan didominasi oleh fine sand atau pasir halus berdiameter 0.125 mm sebanyak 27.7%. Selain pasir halus, sedimen di stasiun 2 juga banyak mengandung pasir sedang dan pasir kasar .

Tabel 4. Klasifikasi sedimen di stasiun 3

Aperature (mm) Berat (gram) Presentase Keterangan
8 0.9 0.9% Kerikil sangat kasar
4 8.95 8.95% Kerikil kasar
2 60.35 60.35% Kerikil
1 24.7 24.7% Pasir sangat kasar
0.5 3.9 3.9% Pasir kasar
0.25 0.15 0.15% Pasir sedang
0.125 0.04 0.04% Pasir halus
0.063 0.07 0.07% Pasir sangat halus
<0.063 0.05 0.05% Lanau
Total 99.11 99.11% Sediment loss 0.89%

Sedimen di stasiun 3 didominasi substrat berdiameter seperti batu kerikil yaitu 2 mm sebanyak 60.35% namun substrat pada stasiun 3 bukan batu kerikil melainkan Halimeda sp. yang telah mengeras seperti kapur. Substrat ini memiliki tekstur yang kasar tapi sangat rapuh dan mudah hancur.Sedimen di stasiun 4 didominasi substrat berdiameter 0.125 sebanyak 41.4% yaitu fine sand atau pasirhalus. Secara umum substrat di stasiun 4 adalah pasir.

Tabel 5. Klasifikasi sedimen di stasiun 4

Aperature (mm) Berat (gram) Persentase Keterangan
4 0.3 0.3% Kerikil kasar
2 4.2 4.2% Kerikil
1 15.3 15.3% Pasir sangat kasar
0.5 10.85 10.85% Pasir kasar
0.25 10 10% Pasir sedang
0.125 41.4 41.4% Pasir halus
0.063 15.7 15.7% Pasir sangat halus
<0.063 1.6 1.6% Lanau
Total 99.3 99.3% Sediment loss 0.7%

 

  • SIMPULAN DAN SARAN
    • Simpulan

Berdasarkan hasil pengukuran data oseanografi dapat disimpulkan bahwa perairan Teluk Kiluan memiliki rentang suhu 28°C sampai 30°C, salinitas 32.50 sampai 33.60, dengan ketinggian mean sea level 200 cm, arah arus beragam bergantung pada angin permukaan, sedimen dasar perairan didominasi oleh fine sand, kekeruhan tiap stasiun berbeda bergantung pada kedalaman dan densitas berkisar 1020 sampai 1021 kg/m³ dengan kecerahan perairan yang masih baik dengan persentase rata-rata 91.65%.

  • Saran

Sebaiknya pengambilan data arus dilakukan menggunakan current meter agar dapat melakukan analisis data arus berdasarkan kedalaman perairan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bariguna D C B.2008.Studi Tingkat Kekeruhan Air Menggunakan Citra Radar AIRSAR. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Brown et al. 1989. Ocean Circulation. New York. Pergamon Press.

Effendi H. 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumber Daya dan. Lingkungan Perairan. Cetakan Kelima. Kanisius. Yogjakarta.

Fardiaz S. 1992. Polusi Air dan Udara, Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Hal : 21-23, 185.

Hadikusumah. 2008. Variabilitas Suhu dan Salinitas Di Perairan Cisadane. Jakarta. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. Jakarta : LIPI. Makara, Sains, Volume 12, No. 2, November 2008: 82-88.

Hutabarat S dan M Evans. 2006. Pengantar Oseanografi. Jakarta: Universitas Indonesia

Iqbal M. dan Indra J. 2011. Pengembangan dan uji coba instrumen pasang surut menggunakan gelombang ultrasonik. Bogor: Fakultas Perikanandan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor

[KMNLH] Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. 2004. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.51/2004 Tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Air Laut. Jakarta : Kementrian Negara Lingkungan Hidup.

Kurniawan.2013. Analisis Kualitas Air Dilihat dari Total Suspended Solid (TSS) DI Perairan Pulau Pahawang Lampung. Jurnal Praktek Laut. Universitas Sriwijaya.

Khopkar, S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Nurhayati, 2006. Distribusi Vertikal Suhu, Salinitas dan Arus diperairan Morotai, Maluku Utara. Oseanologi dan Limnologi Laut, Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI.

Rahmania, R. 2001. Analisis Kualitas Air dengan Bioindikator Plankton di Sungai Wanggu Kodya Kendari, Sulawesi Tenggara. Skripsi (Tidak Dipublikasikan). Jurusan Perikanan, Universitas Haluoleo. Kendari.

Sari T, Ersti Y, Usman. 2012. Studi parameter fisika dan kimia daerah penangkapan ikan perairan selat asam kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau.Jurnal Perikanan dan Kelautan. Vol 17(1): 88-100.

Sheppard, E.P. 1954. Nomenclature based on sand silt clay ratios. Journal of Sediment and Petrology. Vol 24(4): 151-158.

Sidabutar ,Herni Cahayani, Azis Rifai, Elis Indrayanti.2014.Kajian Lapisan Termoklin Di Perairan Utara Jayapura.Jurnal Oseanografi. Vol3, No 2, Hal : 135-141.

Pariwono, J.I (1999). Kondisi oseanografi perairan pesisir Lampung: Technical Report (TE-99/12-1) Soastal Resources Center. Jakarta, University of Rhode Island, 28 hal.

Poerbandono dan Djunasjah E. 2005, Survei Hidrografi. Bandung: PT. Reftka Aditama.

Share/Bookmark