Sengketa Wilayah Perairan Natuna Bukti Indonesia Kaya

Posted on Posted in Uncategorized

1492401748153

Perairan Natuna merupakan salah satu perairan yang memiliki keragaman terumbu karang tertinggi di bagian barat Indonesia. Terumbu karang merupakan tempat tinggal berbagai makhluk hidup laut seperti ikan, algae, makrobenthos, dan lain sebagainya. Dapat diartikan dengan keragaman terumbu karang yang tinggi, maka sumber daya lautnya pula juga banyak dan beragam sesuai dengan pernyataan Conservation International Indonesia (2016). Melalui pendekatan laut, perairan Natuna termasuk kedalam bagian ekoregion Paparan Sunda/Laut Jawa Indonesia. Sedangkan melalui pendekatan daratan, perairan Natuna terletak di Provinsi Kepulauan Riau juga bagian dari pulau terdepan dan terluar Indonesia. Perairan Natuna termasuk salah satu kawasan yang memiliki sumber daya kelautan yang kaya dan beragam di bagian barat Indonesia. Melimpahnya ikan di perairan Natuna ini hakikatnya menjadi incaran para illegal fishing dari Negara tetangga.

Pasalnya perairan Natuna secara nyata dan fakta termasuk kedalam wilayah ZEE Indonesia, telah ditetapkan dan disepakati bersama dengan wilayah yang bersinggungan langsung dengan Indonesia dalam hukum internasional. Zona Ekonomi Eksklusif atau ZEE adalah zona yang jauhnya sebesar 200 mil laut dihitung dari garis dasar pantai pulau terluar. Telah ditetapkan dalam hukum internasional UNCLOS 1982, bahwa kepemilikan ZEE terhadap Negara terkait mempunyai hak atas kekayaan alam di dalamnya, berhak menggunakan kebijakan hukumnya, kebebasan bernavigasi, kebebasan terbang di atasnya, ataupun melakukan penanaman kabel dan pipa. Menurut Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1983, ketika terdapat kapal asing yang melewati perairan ZEE Indonesia dan terlihat melakukan aktivitas seperti menangkap ikan tanpa mendapakan izin atau dapat disebut illegal fishing, Indonesia dapat mengambil tindakan tegas untuk menangkap tersangkanya hingga meledakkan kapal yang digunakan dalam tindakan tersebut.

Pada bulan Juni 2016 lalu Kapal Cina tertangkap dan diproses secara hukum karena terbukti melintas dan menebarkan jaring di wilayah ZEE Indonesia, wilayah perairan Natuna, tanpa mendapatkan izin dari Pemerintahan Republik Indonesia (dikutip dalam berita detik.com). Karena hal tersebut pemerintah China melayangkan nota protes atas perlakuan Indonesia terhadap rakyatnya dan meng-klaim secara sepihak bahwa perairan Natuna masuk kedalam wilayah Laut China Selatan, dengan membuat garis yang disebut sebagai “Nine-Dashed Line” atau “Sembilan Garis Putus-putus”. Menurut Menteri Luar Negeri, Retno, menjelaskan bahwa tidak ada kawasan tumpang tindih (overlapping claims) yang dinotakan menurut protes pemerintah China (dikutip dalam berita detik.com). Menurut hukum internasional UNCLOS 1982 juga telah ditetapkan dan disepakati bersama dengan negara-negara dalam organisasi PBB bahwa perairan Natuna, perairan yang dilewati oleh nelayan China yang tertangkap tersebut, termasuk wilayah ZEE Indonesia.

Hal ini merupakan salah satu bukti kuat bahwa Indonesia merupakan Negara yang kaya hingga terjadi perebutan wilayah perairan Natuna dengan RRC (Republik Rakyat China). Selain itu, illegal fishing yang banyak dilakukan oleh Negara tetangga di perairan Natuna, perairan Indonesia, membuktikan bahwa Indonesia mempunyai potensi sumber daya alam yang cukup dan dapat dimanfaatkan untuk rakyatnya. Seharusnya Indonesia sudah bisa mandiri dan tidak bergantung kembali pada impor oleh Negara tetangga. Bahkan Indonesia bisa menjadi pengekspor utama sumber daya laut khususnya ikan dan sumber daya laut lainnya kepada Negara lain yang membutuhkan. Hal itu dapat membantu pendapatan Negara agar meningkat seiring dengan meningkatkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam menunjang hal tersebut. Rakyat Indonesia juga harus bangga terhadap hal itu dan membantu dalam pelestarian alam dan sumber daya alam yang Indonesia miliki. Karena jika tidak dirawat, semuanya tidak akan awet dan bertahan lama. Yuk! Bantu Indonesia menjaga bumi ini tetap lestari dan berjalan semestinya sesuai kodratnya.

Kontributor : DAA

Share/Bookmark