Hidro Akustik, Teknik Deteksi Bawah Air !

Posted on Posted in Uncategorized

Untitled

Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia. Sebagai Negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan yang sangat melimpah. Pemanfaatan sumber daya perikanan tangkap di Indonesia termasuk kedalam kategori tinggi dalam beberapa wilayah perairan tertentu, akan tetapi dalam beberapa wilayah perairan lainnya ada yang masih belum termanfaatkan secara maksimal. Selain itu dibeberapa wilayah perairan Indonesia kegiatan penangkapan ikan termasuk dalam kategori berlebih atau over fishing.

Informasi mengenai keberadaan dan kuantitas atau potensi sumber daya  ikan di suatu perairan menjadi sangat penting dalam menentukan kebijakan pemerintah dalam mengelola sumber daya perikanan.  Data yang digunakan sebagai acuan kebijakan tersebut diinlai kurang akurat, karena perhitungan yang dilakukan tidak dalam kondisi yang nyata dari perairan. Perhitungan data dari hasil tangkapan nelayan yang didaratkan dipelabuhan rawan akan error karena mungkin saja sebagian nelayan mendaratkan hasil tangkapannya di daerah lain. Selain itu kegiatan jual belil hasil tangkapan di laut lepas sering dilakukan untuk menghemat biaya operational dan kegiatan pencurian ikan yang dilakukan Negara lain di perairan Indonesia. Kesalahan dalam mendata sumber daya ikan akan berakibat fatal. Apabila sumber daya ikan di suatu perairan sudah over fishing maka yang dilakukan adalah melakukan re-stocking, apaila sebaliknya maka kegiatan penangkapan kurang maksimal.

salah satu metode untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaan dan stok ikan secara cepat  dan akurat adalah dengan menggunakan teknologi akustik bawah air. Teknologi akustik adalah teknologi yang memenfaatkan pancaran gelombang suara yang dikeluarkan transducer menuju kolom perairan (Manik 2010). Sinyal atau gelombang suara yang mengenai target seperti ikan, plankton, dasar peairan dan lain-lain akan dikembalikan ke transducer. Sinyal inilah yang nantinya akan diolah dan dikuantifikasi untuk mendapatkan nilai pantul (Target Strength) dan nilai gerombol (Scattering Volume) yang nantinya menghasilkan informasi mengenai keberadaan dan stok ikan disuatu perairan.

Berikut merupakan gambaran perinsip dasar teknologi akustik bawah air menurut manik 2014 :

riswan

Metode akustik bawah air ini merupakan solusi dalam mendata stok ikan yang skurat, sehingga pengambilan kebijakan dalam mengelola sumber daya dapat dilakukan dengan baik dan akurat. Selain itu metode ini juga  dapat meningkatkan efisiensi kegiatan penangkapan ikan oleh nelayan karena kebiasaan nelayan yang mengandalkan pengalaman melaut dapat menjadikan biaya operasional kapan menigkat. Selain dapat memberikan informasi mengenai keberaaan dan stok ikan disuatu perairan, menurut Manik 2014 metode ini juga bisa digunakan dalam ruang lingkup :

  1. Pada budidaya perairan dalam penentuan jumlah/biomassa ikan di dalam kolam, menduga ukuran individu, memantau kesehatan dan aktivitas ikan mengunakan system telemetri kelautan.
  2. Pada studi tingkah laku ikan : migrasi ikan (vertikal dan horizontal), orientasi dalam gerak renang ikan, mengukur kecepatan renang ikan, memperlajari reaksi menghindar ikan terhadap kapal, mempelajari tingkah laku ikan terhadap floating objecks seperti rumpon atau Fish Agregating Device (FAD), mempelajari tingkah laku (respon) ikan terhadap rangsangan cahaya (optical properties), suara, listrik, kimiawi, dsb.
  3. Lain-lain : mempelajari kecepatan suara di air) dan, mempelajari sifat-sifat akustik dari air, pendeteksian sumber suara (echolocation) dan komunikasi hewan bawah air.
  4. Pada penangkapan ikan : mempelajari penampilan alat tangkap (pembukaan mulut jaring, kedalaman, pengaruhnya terhadap ikan), mempelajari selektifitas alat tangkap.

Penggunaan teknologi akustik bawah air di Indonesia belum banyak diterapkan terutama oleh nelayan untuk membantu mendetaksi keberadaan ikan. Hal ini disebabkan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk dapat membeli seperangkat teknologi akustik, sehingga masyarakat nelayan kecil tidak mampu untuk membeli teknologi akustik ini. Jika teknologi akustik bawah air ini dapat digunakan oleh nelayan secara luas maka pendapatan hasil tangkapan nelayan akan meningkat, sehingga perekonomian masyarakat nelayan akan menigkat.

Referensi / daftar pustaka :

Manik, H.M. 2010. Pengukuran Densitas Ikan dalam kondisi terkontrol menggunakan metode hidroakustik. Prosiding Seminar Nasional Perikanan Sekolah Tinggi Perikanan.

Manik, H.M. 2014. Teknologi Akustik Bawah Air : Solusi Data Perikanan Laut Indonesia. Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan. 1(3) : 181-186

Share/Bookmark